Eskalasi Ketegangan: I...

Eskalasi Ketegangan: Israel Akui Serangan Maut Terhadap Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran di Tengah Konflik Regional yang Membara

Ukuran Teks:

KoranNasional.com, Dalam perkembangan signifikan yang mengindikasikan semakin memanasnya konflik regional, Israel secara terbuka mengakui bertanggung jawab atas operasi yang menewaskan Mayor Jenderal Majid Khademi, Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Pengakuan ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersama Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menandai babak baru dalam konfrontasi bayangan antara kedua negara.

IDF, melalui pernyataan di platform Telegram, menegaskan bahwa kematian Khademi merupakan "pukulan berat lainnya" bagi struktur IRGC. Klaim ini datang di tengah dinamika yang tidak biasa, di mana Iran, alih-alih menunggu klaim dari musuhnya, justru lebih dulu mengumumkan kematian komandan senior tersebut.

Insiden ini terjadi hanya empat hari setelah Khademi resmi menjabat sebagai pucuk pimpinan intelijen IRGC. Ia menggantikan Mohammad Kazemi, yang juga dilaporkan tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025, di tengah apa yang disebut sebagai perang Iran-Israel yang berlangsung selama dua belas hari.

IRGC sendiri telah merilis pernyataan melalui berbagai media Iran, mengkonfirmasi kematian Khademi pada Senin pagi. Dalam pengumuman tersebut, Garda Revolusi secara eksplisit menuduh Israel dan Amerika Serikat sebagai dalang di balik serangan yang menargetkan pejabat tinggi mereka.

Sosok Majid Khademi sering muncul di hadapan publik dengan dua identitas berbeda, kadang sebagai Majid Khademi dan di lain waktu dikenal sebagai Majid Hosseini. Ia dikenal sebagai perwira militer senior dengan rekam jejak panjang dalam berbagai posisi strategis di bidang keamanan Iran.

Sebelum penugasan terbarunya, Khademi telah lama berkarier di Garda Revolusi. Meskipun sempat dipindahkan ke unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan, ia kemudian kembali ke struktur intelijen IRGC, menunjukkan pengalamannya yang mendalam di kedua lembaga tersebut.

Setelah pembentukan Organisasi Intelijen IRGC, nama Majid Khademi, atau Hosseini, kerap disebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan Hossein Taeb, kepala intelijen IRGC pada masanya, setidaknya hingga tahun 2014. Kariernya menanjak dari wakil direktur hingga kemudian memimpin Organisasi Perlindungan Intelijen IRGC.

Israel Ada di Balik Serangan Tewaskan Bos Intelijen Garda Revolusi Iran

Pada Mei 2018, Khademi diangkat sebagai kepala unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan, menggantikan Asghar Mir-Jafari yang juga merupakan perwira senior IRGC. Penunjukan ini menggarisbawahi kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam mengelola operasi intelijen yang sensitif.

Sekitar sepuluh hari sebelum serangan yang merenggut nyawanya, Khademi sempat berbicara kepada media yang berafiliasi dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran. Dalam wawancara tersebut, ia mengomentari gelombang protes besar yang melanda Iran pada Januari sebelumnya.

Khademi secara tegas menyatakan bahwa "setidaknya 10 dinas intelijen asing," termasuk Unit 8200, divisi siber dan intelijen militer Israel, terlibat dalam kerusuhan tersebut. Ia menuduh Presiden AS Donald Trump memicu apa yang disebut pejabat Iran sebagai strategi "pembunuhan terencana" yang bertujuan meningkatkan jumlah korban untuk membenarkan intervensi militer asing.

Menurut laporan dari Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, penumpasan demonstrasi pada Januari itu mengakibatkan kematian setidaknya 7.000 orang. Tuduhan ini semakin memperkeruh hubungan Iran dengan negara-negara Barat.

Khademi juga mengklaim bahwa beberapa badan keamanan dari negara-negara sahabat telah memperingatkan Iran mengenai rencana tersebut. Mereka, kata Khademi, menegaskan bahwa musuh belum menghentikan upaya untuk menyerang Iran, namun kini memfokuskan strategi pada penciptaan kekacauan internal dan ketidakstabilan di dalam negeri.

Dalam wawancara yang sama, Khademi menyinggung pertemuannya dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelum gelombang protes Januari pecah. Pada pertemuan itu, ia melaporkan perkembangan "perang 12 hari" yang baru saja terjadi.

Menurut Khademi, Pemimpin Tertinggi Iran berpesan kepadanya: "Perhatikan pekerjaan intelijen. Masa sekarang mirip dengan era tahun 1960." Era 1960-an dalam konteks Iran merujuk pada masa awal Republik Islam yang ditandai oleh perang serta penindasan keras terhadap kelompok oposisi.

Pada periode tersebut, ribuan tahanan politik dieksekusi, dan tindakan represif dilakukan secara sistematis terhadap mereka yang dianggap menentang negara. Puncak gelombang eksekusi terjadi pada musim panas 1988, ketika ribuan narapidana dieksekusi di berbagai penjara Iran, menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah hak asasi manusia di negara tersebut.

Israel Ada di Balik Serangan Tewaskan Bos Intelijen Garda Revolusi Iran

Di tengah ketegangan yang meningkat ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut melontarkan ancaman keras melalui media sosial. Pada Selasa, 7 April 2025, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal.

Trump, dalam unggahannya yang sarat kata-kata kasar, menyatakan akan membuat Iran seperti "neraka." Namun, kepada media AS, Trump juga menyatakan ada "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Teheran, menunjukkan adanya ambivalensi dalam pendekatannya.

Ancaman baru Trump ini muncul setelah ia mengumumkan bahwa awak kedua dari pesawat jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran berhasil diselamatkan dalam operasi di wilayah negara tersebut. Pilot F-15 itu diselamatkan tak lama setelah pesawatnya ditembak jatuh pada Jumat, 3 April 2025, setelah lebih dari sebulan perang.

Iran, sebagai respons, mengejek ultimatum Trump, menyebut pernyataan presiden AS itu sebagai "tidak berdaya, gugup, dan bodoh." Juru bicara kantor presiden Iran, Mahdi Tabatabaei, mengindikasikan bahwa Selat Hormuz "akan dibuka kembali" ketika "sebagian dari biaya tol transit digunakan untuk memberikan kompensasi atas semua kerusakan yang disebabkan" oleh perang.

Iran juga terus membalas gempuran udara AS dan Israel dengan serangan terhadap berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kedua negara tersebut. Hal ini menciptakan lingkaran kekerasan yang kian membesar di kawasan.

Gangguan arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui kapal-kapal yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia, memicu lonjakan harga minyak global. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia, menambah tekanan ekonomi pada banyak negara.

Trump telah beberapa kali menunda tenggat ultimatum pembukaan Selat Hormuz. Pada 21 Maret, ia mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika selat itu tidak "TERBUKA SEPENUHNYA" dalam 48 jam. Tenggat ini kemudian dimundurkan secara bertahap hingga 7 April.

Meskipun Trump sempat mengklaim adanya pembicaraan "baik" dan "produktif" dengan Iran, Teheran membantah telah berkontak dengan pemerintahan Trump. Hal ini menunjukkan kurangnya komunikasi langsung yang dapat meredakan ketegangan.

Israel Ada di Balik Serangan Tewaskan Bos Intelijen Garda Revolusi Iran

Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran menegaskan bahwa ancaman Trump adalah tindakan yang "tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh." Ia menambahkan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi pemimpin AS tersebut, menunjukkan retorika yang tidak kalah keras dari pihak Iran.

Sementara itu, Israel telah melancarkan serangan terhadap lokasi-lokasi infrastruktur sipil Iran, termasuk fasilitas petrokimia pada Sabtu, 4 April 2025. Pejabat pertahanan Israel dikabarkan menunggu persetujuan AS untuk menyerang lebih banyak fasilitas energi Iran di pekan berikutnya.

Serangan gabungan AS-Israel juga menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di barat daya Iran pada Minggu, 5 April 2025. Ini menandai perluasan target serangan ke infrastruktur vital Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan drone dan rudal ke Israel serta sekutu AS di kawasan Teluk. Sebuah gedung hunian di Kota Haifa, Israel, dihantam rudal balistik pada Minggu, 5 April 2025, menyebabkan empat orang terluka.

Pada hari yang sama, otoritas di Abu Dhabi melaporkan bahwa mereka sedang memerangi kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang disebabkan oleh puing-puing yang jatuh dari rudal Iran. Kuwait juga menyatakan bahwa serangan drone Iran telah merusak fasilitas minyak dan petrokimia mereka. Pabrik industri dan bahan bakar di Bahrain juga menjadi sasaran, memperlihatkan jangkauan serangan balasan Iran.

Serangkaian insiden ini menunjukkan peningkatan dramatis dalam konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, dengan konsekuensi yang berpotensi meluas secara regional maupun global.

Sumber: news.detik.com

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan