Sejumlah narasumber saat berdiskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) Global Halal Hub  bertajuk “Strategi Produk Halal Menguasai Pasar Global” yang digelar Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan secara hibrid (daring dan luring) di Ruang Sinergi Sekretariat Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis (28/10/2021).
>

KORANNASIONAL.COM–Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemimpin pasar halal dunia. Potensi ini bisa terwujud melalui kolaborasi strategis yang terintegrasi ekosistem industri produk halal dari hulu hingga hilir berbasis digital. Seiring dengan itu, Indonesia harus memiliki positioning, brand, dan diferensiasi produk halal yang diusung sebagai unggulan dunia.

Demikian salah satu catatan penting dalam Focus Group Discussion (FGD) Global Halal Hub  bertajuk Strategi Produk Halal Menguasai Pasar Global yang diselenggarakan Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan, secara hibrid (daring dan luring) dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, dari Ruang Sinergi Sekretariat Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis (28/10/2021).

FGD yang dilaksanakan bersama Asosiasi Platform Digital Ekspor (PDExpor) menghadirkan narasumber Dr Lukmanul Hakim (Staf Khusus Wakil Presiden RI), Chaerul Saleh (Asisten Deputi IV Kementerian Koordinator Peremokoman), Ahmad Lutfi (Asisten Deputi Keuangan dan Investasi Sekretariat Wapres), Johni Marta (Sekretaris Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan), Edi Kusdiyawako (Adisten Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UMKM), Juan Permata Adoe (Wakil Ketua Umum Kamar Dagang & Industri Indonesia), dan Amalia Jayanti Abdullah (Komite Ekspor Halal Masyarakat Ekonomi Syariah), dipandu moderator Asisten Staf Khusus Wapres Guntur Subagja Mahardika dan Dhika Yudhistira.

Staf Khusus Wapres Dr Lukmanul Hakim menegaskan, salah satu refocusing Wakil Presiden Prof Dr Ma’ruf Amin mewujudkan Indonesia menjadi pusat produsen produk halal dunia pada 2024. Untuk mencapai itu perlu kolaborasi semua pemangku kepentingan menetapkan langkah-langkah strategis.

“Kita harus menentukan positioning Indonesia sebagai apa dalam ekonomi halal dunia,” kata Lukmanul Hakim. Saat ini, ada tiga sektor unggulan yang dapat menjadi kekuatan produk halal Indonesia, yaitu makanan halal, fesyen dan kosmetika.

Kadin melihat potensi makanan halal sangat besar untuk pasar domestik dan ekspor. “Positioning Indonesia sebagai halal food manufacturer dunia,” ungkap Waketum Kadin, Juan Permata Adoe.

Dia menyebutkan, Indonesia dapat menjangkau konsumen dan retailer internasional dengan diferensiasi inovatif, kreatif, terpercarya.

Pemerintah, kata Chaerul Saleh, sudah melakukan relaksasi kebijakan untuk mendorong pengembangan produk halal. Diantaranya melalui UU Cipta Kerja, elaksasi ekspor dan impor produk halal tujuan ekspor, sertifikasi produk halal gratis bagi UMKM, peningkatan kualitas, pembiayaan, pelatihan dan pendampingan.

“Sebagian besar negara anggota OKI yang mayoritas penduduk beragama Islam memiliki tuntutan standar dalam pemenuhan atas jaminan produk halal yang tinggi. Ini pasar dengan peluang yang besar,” paparnya.

Johni Marta mengungkapkan tantangan produk halal adalah peningkatan daya saing produk UMKM, peningkatan kolaborasi antar perusahaan di dalam dan luar negeri, pendampingan UMKM, dan indentifikasi hambatan pada negara tujuan ekspor. Saat ini, Kementerian Perdagangan sedang membicarakan kerjasama perdagangan bilateral dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Asisten Deputi Kementerian Koperasi dan UKM, Edi Kusdiyowako, menyebutkan pentingnya ekosistem digital untun meningkatkan akses dan memperbaiki bisnis proses sehingga usaha lebih efisien dengan biaya lebih rendah. Ada empat sektor yang dikembamgkan adalah makanan halal, fesyen muslim, pariwisata halal, dan keuangan syariah.

Lukmanul Hakim memaparkan momentum pandemi covid-19 menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem digital produk halal. Ia mencontohkan platform digital anggota Asosiasi Platfom Digital Ekspor yang mampu menangkap peluang pasar ekspor melalui aplikasi digital. “Saya melepas ekspor produk halal berbasis aplikasi digital,”katanya.

Ia menjelaskan, Global Halal Hub dapat menjadi kanal dalam ekosistem produk halal. Melalui platform digital dapat memangkas jalur distribusi dan sekat (barrier) yang selama ini terjadi, sehingga memudahkan produsen produk halal, khususnya UMKM, menembus pasar ekspor.

Sehari sebelumnya saat membuka Indonesia Sharia Economic Forum (ISEF) 2021, Wakil Presiden Prof Dr KH Maruf Amin menyatakan posisi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia ditataran global saat ini, cukup menggembirakan dan mendapatkan apresiasi dunia.

Data State Gobal Islamic Economy Report 2020/2021 mencatat bahwa indikator ekonomi syariah Indonesia terus membaik, dan pada tahun 2020 berhasil menduduki peringkat ke-4 dunia setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

“Dari indikator-indikator ekonomi syariah tersebut, posisi ekonomi dan syariah Indonesia rata-rata masuk dalam peringkat 10 besar, dan dua di antaranya berhasil masuk dalam peringkat 5 besar dunia yaitu sektor makanan dan minuman halal dan sektor fashion atau pakaian muslim,” urai Wapres.(*/kn)

LEAVE A REPLY