Ketua Umum Intani, Guntur Subagja (tengah), menghadiri panen raya di persawahan Pacuan Kuda, Kotakaler, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (26/9/2021).
>

KORANNASIONAL.COM–Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) mengapresiasi Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jawa Barat dalam mengembangkan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan di tatar Sunda.

Penerapan teknologi berupa suplemen penyubur tanah dan tanaman itu sudah diaplikasikan di sejumlah demplot di beberapa kabupaten di Jawa Barat, termasuk Kabupaten Sumedang.

“Dengan peningkatan produksi, kekurangan pangan Jabar dapat diatasi,” ungkap Ketua KPED, Ipong Witono, usai panen bersama di persawahan Pacuan Kuda, Kotakaler, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (26/9/2021).

Ketum Intani Guntur Subagja mendampingi Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir dan Ketua KPED Ipong Witono dalam panen raya tersebut. Hadir pula Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Barat Rudy Rakian, dan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Barat Adang Rochjana.

“Jawa Barat harus kembali menjadi lumbung pangan nasional. Kita berharap Sumedang menjadi salah satu motor pembangunan kemandirian pangan nasional di Jawa Barat.” kata Guntur yang juga Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI.

Ia mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, ketersediaan dan ketahanan pangan menjadi sangat prioritas. “Kita harus bisa, bagaimana swasembada kembali lagi dan membangun ketahanan pangan dimana kualitas pertanian Sumedang dan Jawa Barat sangat bagus,” tururnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyambut baik diterapkannya pengembangan produksi padi dengan menggunakan bio gro di lahan pertanian Kabupaten Sumedang. Bio gro telah diujicobakan untuk tanaman padi di persawahan Pacuan Kuda, Lingkungan Sindang Raja, Kelurahan Kotakaler, Kecamatan Sumedang Utara dan hasil panen menunjukkan ada peningkatan produksi bahkan mencapai dua kali lipat.

“Sumedang menjadi demplot untuk percontohan tanaman padi menggunakan bio gro. Hasilnya ada peningkatan. Yang biasanya 4–5 ton per hektare (ha) kini bisa sampai 9 ton per hektare,” ucap Bupati.

Ia menambahkan, demplot seperti ini nanti diterapkan di Cimalaka (dan daerah lainnya). “Sehingga Sumedang menjadi bagian kerja sama dengan PT Bio Gro untuk penanaman secara masif dengan pola tanam ini. Jadi produksi panen meningkat dan mudah-mudahan surplus terus dan tidak mengimpor beras lagi,” imbuhnya.

Ia menyebutkan, dengan melimpahnya produksi padi di Kabupaten Sumedang akan menjadikan Sumedang sebagai pemasok utama bagi daerah lain seperti DKI Jakarta, yang sudah ada MoU sebelumnya.

“Dengan melimpahnya produk pertanian ini, tentunya pasarnya pun sudah ada dimana Pemda Sumedang melalui BUMD Kampung Makmur bekerja sama dalam memasarkan produk pertanian dengan Pemda DKI Jakarta melalui BUMD PT Tjipinang Raya dan Food Station,” ucapnya.

Ketua KPED Ipong Witono mengatakan, teknologi bio gro terbukti mampu meningkatkan produksi sekitar 1,5 kali sampai 2 kali lipat. Ia berharap bila diterapkan secara luas dapat mengatasi kebutuhan pangan Jawa Barat.(*/kn)

LEAVE A REPLY