Handriana
>

Sedikit orang yang tertarik di usaha tanaman kebun. Sebelum memulai, kening pasti berkerut. Pasalnya, menjadi petani hortikultura tidak bisa sendirian, butuh pekerja dan modal besar ketimbang usaha tanaman lainnya.

Handriana, lelaki berusia 35 tahun, merupakan satu dari sekian orang yang berani memutuskan untuk menekuni usaha pertanian spesialis pola tumpang sari (budidaya berbagai jenis tanaman di lahan yang sama), bahasa kerennya polikultur.

Secara kebetulan Handriana bermukim di kaki Gunung Burangrang, tepatnya di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kondisi wilayah ini sangat menopang pengembangan usahanya. Lahannya subur, cuacanya sejuk, dan mayoritas masyarakatnya bertani.

Belakangan diketahui, Handriana ternyata bukan terlahir dari keluarga petani, bahkan tidak memiliki pengalaman di budidaya hortikuktura. Skillnya sebagai pendidik, guru honorer. Pengakuan polosnya tersebut disampaikan Handriana di web seminar (webinar) Inspirasi Bisnis Intani ke-34, Rabu (4/8/2021).

Kala itu, tahun 2008, bertani hanya dipahami secara teoritis. Dimulai dari menghijaukan lingkungan sekolah, tempatnya mengajar. Menurutnya, menggeluti usaha pertanian hanya berbekal tekad dan kesiapan mentalnya.

“Otodidak, sama sekali gak punya pengalaman bertani. Tapi saya gak malu bertanya kepada petani berpengalaman di lingkungan tempat tinggal saya. Dari situlah saya belajar cara menanam, cara merawat hingga upaya pengembangannya,” ucap Handriana.

Meski sangat melelahkan, namun aktivitas barunya itu justru memunculkan kepuasan batin. Lingkungan sekolahnya menjadi asri, dan keringat lelahnya menghasilkan sedikit rejeki bagi keluarganya.

Modal seadanya

Seiring waktu, Handriana pun semakin ‘terhanyut’ bertani. Bahkan dirinya terobsesi ingin menjadi petani hebat dan sukses. Lantaran itulah pada tahun 2010 Handriana membuat keputusan bersejarah dalam hidupnya, yaitu meninggalkan profesinya sebagai pendidik. Dia banting stir untuk menekuni budidaya hortikutura, menjadi pengusaha tanaman pangan dan aneka tumbuhan bunga, berbasis polikultur (tumpang sari).

Berbekal modal seadanya, ayah dua anak ini mulai serius dan fokus mengembangkan usaha taninya. Honor yang dikumpulkan saat menjadi guru dipakainya untuk modal. “Panen pertama hingga ketiga uang saya masih berputar, belum menghasilkan. Di panen keempat baru balik modal dan merasakan keuntungan,” ungkapnya sumringah.

Ilmu bertaninya semakin bertambah setelah Handriana bergabung di kelompok tani dan mendapatkan bimbingan dan pendampingan dari petugas Dinas Pertanian. “Dulu saya gak kenal kelompok tani, apaan itu? Tapi setelah menjadi anggota, saya sangat merasakan manfaatnya, jadi bertambah luas wawasan tentang pertanian,” kata jebolan S-1 ini.

Di tahun berikutnya Handriana membentuk sendiri kelompok tani, yang anggotanya dikhususkan para petani bunga dan sayur mayur. Di kelompok ini, dia terlibat langsung mengurusi pengelolaan dan pemasarannya. Bahkan sesekali turun langsung ke konsumen.

Lantaran ditempa pengalaman dan kemandirian, pemikiran Handriana pun visioner, jauh ke depan. Untuk mempercepat pengembangan usaha taninya, dia harus memiliki fasilitas green house (bangunan untuk merawat tanaman dari berbagai cuaca), agar hasil panen lebih berkualitas dan bisa mengerek nilai jual. Disitulah awal Handriana berkenalan dengan perbankan. Hingga sekarang ada tiga bank yang menjadi mitra usahanya, BRI, Mandiri dan BJB.

“Saya ini orang yang kurang pandai di perekonomian. Yang bunganya paling kecil, di bank itulah saya pinjam modal,” ujar Handriana.

Kini, Handriana tidak polos lagi. Dia sudah menjadi petani sungguhan dan sukses. Di atas lahan 3000 meter, dia menaman jeruk lemon, salada, bawang, brokoli, serta tumbuhan bunga potong, herba dan aster. Memasarkannya tidak sulit, karena sudah banyak pelanggan yang menjalin kerjasama. Saban minggu panen, Handriana pun menghasilkan banyak rupiah.

Di webinar Intani yang juga diikuti mantan Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna dan mantan Anggota DPR RI Dedi ‘Miing’ Gumelar tersebut, Handriana berharap suatu saat tanaman kebunnya menjadi komoditas unggulan yang bisa diekspor ke luar negeri.

“Tolong pak Guntur (ketum Intani), upayakan agar produk pertanian saya bisa diekspor,” demikian Handriana.(amr)

LEAVE A REPLY