Seorang penggembala di gereja sekaligus pegawai Distrik Beoga Pendeta Jupinus Wama saat cerita kepada aparat TNI-Polri (foto: Dok/Polri).
>
Seorang penggembala di gereja sekaligus pegawai Distrik Beoga Pendeta Jupinus Wama saat cerita kepada aparat TNI-Polri (foto: Dok/Polri).

KORANNASIONAL.COM – TNI-Polri menemukan hal tak terduga saat melaksanakan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi pembakaran gedung sekolah dan penembakan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) hingga menewaskan dua guru di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak.

Di TKP, seorang penggembala di gereja sekaligus pegawai Distrik Beoga Pendeta Jupinus Wama menuturkan kepada aparat TNI-Polri, bahwa ia bersyukur karena aparat keamanan sudah berhasil menguasai Distrik Beoga. Berkat kehadiran TNI-Polri di perkampungan itu bebas dari situasi yang mencekam akibat ulah KKB.

Menurut Jupinus, tindakan KKB sudah sangat tidak bermoral, dan melewati batas. Tak hanya merusak lingkungan tempat tinggal masyarakat dengan melakukan pembakaran, komplotan tersebut juga membunuh hingga memperkosa anak-anak perempuan di Kampung Julukoma untuk memenuhi nafsu bejat mereka.

“Kami para pengebambala sudah tidak dianggap lagi, kampung kami  (Kampung Julukoma, Beoga) sudah hitam karena KKB. Masyarakat Marah, tuan tanah marah, Tuhan marah, kami semua sudah marah. Karena yang mereka kasih hancur bukan hanya gedung sekolah saja, tapi kita punya anak-anak perempuan mereka kasih hancur,” ujar Pendeta Jupinus, Jumat (16/4/21).

Ia menambahkan, pasca rentetan kegiatan teror yang dilakukan KKB kepada masyarakat Beoga, kehadiran aparat keamanan sangat memberikan semangat dan mengurungkan rasa takut mereka untuk bersembunyi di hutan.

“Sekarang sudah aman, bapak-bapak (TNI-Polri) sudah datang, kita panggil kembali keluarga yang sudah hilang di hutan dan guru-guru,” pungkas Pendeta Jupinus. (ud/ed).

LEAVE A REPLY