>

Setiap memasuki bulan Desember kita akan selalu mengenang wafatnya Dr.K.H. Abdurrahman Wahid.

Gus Dur begitu sapaannya wafat 30 Desember 2009 di Jakarta pada usia 69 tahun.

Beliau tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia  keempat dari tahun 1999 hingga 2001. 

Beliau Bapak Bangsa yang selalu mengajarkan kebaikan terhadap sesama. Tanpa melihat latar belakang suku, agama, warna kulit dan golongan.

Meski berbeda Gus Dur menempatkan kita sebagai manusia untuk menjadi sejatinya manusia.

Gus Dur memberi kita banyak contoh dalam segala hal ranah kehidupan. Sebagai pribadi beliau memberikan contoh kesederhanaan kepada kita.

Dengan tampilan yang biasa saja tidak membuat jarak kepada semua orang untuk bisa meneladani sosoknya yang sederhana.

Kita tidak melihat kemewahan pada sosok Gus Dur, ini yang kadang-kadang orang yang melihat begitu simpati tidak terkecuali siapapun dengan latar belakang berbeda.

Sebagai Ulama beliau mengajarkan kepada kita tentang ajaran Islam yang ramah. Islam yang cinta terhadap sesama manusia. Islam yang mengayomi, jauh dari kebencian dan teriakan- teriakan permusuhan.

Cinta terhadap sesama, memberikan keleluasaan kepada setiap orang untuk meyakini agamanya masing-masing. Kebaikan kepada manusia tidak memandang latar belakang, dari mana kebaikan itu orang tidak akan menanyakan asal agama orang yang membawa kebaikan.

Sebagai politisi beliau sukses menjadi Presiden di negeri ini, capaian tertinggi dari semua perjalanan politisi, beliau bisa mendapatkannya.

Prinsip kejujuran dan taat terhadap konsitusi membuat semua lawan politiknya gerah, sampai akhirnya dibuat cara bermacam-macam untuk menjatuhkan beliau dari kursi Presiden.

Satu prinsip beliau yang masih saya ingat, lebih baik mundur dari pada harus melanggar konstitusi.

Konstitusi aturan bernegara, sementara jabatan hanyalah sementara. Ini yang harus kita contoh bagi generasi kita, bahwa jabatan apapun adalah bukan segala-galanya.

Keteladan beliau menembus batas bagi orang yang melihatnya.

Saya bukan siapa-siapa, selalu menangis ketika melihatnya, nun jauh jarak antara Nasab dan Nasi. Tetapi tidak membuat jarak pertemuan rasa antara yang Ulama dengan orang biasa..

Alfatihah…

Abdul Kodir
Ketua PC GP Ansor Kota Depok

LEAVE A REPLY