Foto: KemenPUPR

www.korannasional.com – Sampah merupakan hasil sisa dari aktivitas manusia. Sayangnya, kesadaran masyarakat Kota Depok terhadap lingkungan tempat tinggalnya ternyata masih rendah. Menumpuknya sampah di selokan air jadi salah satu indikasi ketidakpedulian warga terhadap dampak yang akan ditimbulkan.

Tumpukan sampah tersebut di antaranya berada di saluran irigasi di Jalan Bulak Pinang Kecamatan Cipayung. Hal ini membuat Satgas Banjir Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok kerja keras membersihkan. “Satgas kami sudah turun langsung membersihkannya. Kami berharap warga setempat juga peduli terhadap lingkungannya. Mestinya mereka ikut bahu membahu dengan Satgas,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Depok, Citra Indah Yulianty.

Seperti dikatakan walikota Depok Mohammad Idris Abdul Shomad, rendahnya kepedulian warga terhadap lingkungan menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Kepedulian buang sampah pada tempatnya menjadi poin penting yang harus dijalankan dan di sosialisasikan. Idris mengimbau kepada para Lurah menginformasikan ke masyarakat di tiap wilayahnya untuk dapat memilah sampah. Walikota menekankan ditargetkan minimal 30 persen dari jumlah warganya harus sudah memilah sampah sampai akhir tahun 2017.

“Ini kinerja lurah dan harus dicantumkan, karena tidak hanya serapan anggaran tapi kegiatan. Lurah harus mengerahkan warganya gotong rotong bersihkan lingkungan, jangan membuat Dinas PUPR kedodoran,” tegas dia.

Budaya gotong royong di lingkungan boleh jadi mulai terlupakan. Warga tak boleh mengandalkan ‘pekerja otot’ dari Satgas Banjir PUPR semata. Tapi, juga harus sama-sama membantu dalam mengatasi lingkungan. Tapi, terpenting adalah kepedulian dari warga tersebut untuk tidak membuang sampah sembarang. Pasalnya jika gorong-gorong selalu menumpuk sampah otomatis aliran air terhambat.

Menurut Kepala Dinas PUPR Manto Jorghi, idealnya Satgas Banjir berjumlah 650 orang disesuaikan dengan kondisi wilayah. Namun saat ini Satgas Banjir hanya 120 orang, per kecamatan 10 org, 10 orang tenaga administrasi dan sopir. Diakui pihaknya terbatas dengan anggaran, sehingga saat ini belum bisa memenuhi kuantitas tersebut.

Manto mengatakan persoalan sampah di Depok sangat serius. Berdasarkan catatan dari tugas yang dilakukan Satgas PUPR, setiap hari sebanyak 55 ton sampah diangkut dari situ, sungai, dan kali di Kota Depok. Sampah sebanyak itu diangkut oleh hanya 120 petugas Satgas Banjir PUPR.

“Tercatat, rata-rata lima ton sampah setiap harinya diangkut dari situ, sungai, dan kali yang ada di 11 kecamatan di Kota Depok. Jadi, diperkirakan, 55 ton sampah diangkut dari situ,” ujar Manto.

Manto menjelaskan, setiap hari timnya juga membersihkan sampah-sampah yang ada diselokan. Jik itu tak diangkut, maka akan menggunung dan banjir di Kota Depok mungkin akan melebar ke beberapa titik. “Tentu akan menghambat aliran air dan berisiko terjadi banjir,” jelasnya.*

Dikatakan Kali Laya Pasir Gunung Selatan, Situ Gadog, Kali Jantung Bukit Cengkeh II, dan Situ Pedongkelan, jadi obyek sampah. Kali Laya menjadi prioritas dan harus dicek setiap harinya, karena setiap curah hujan tinggi, pasti terjadi banjir di kawasan Perumahan Taman Duta dan Perumahan Bukit Cengkeh. “Umumnya, sampah yang kerap menumpuk di Kali Laya itu adalah sampah rumah tangga, kayu, kasur, dan enceng gondok,” ujar Manto.*suryansyah

LEAVE A REPLY