>

www.korannasional.com – Lingkungan adalah sesuatu di sekitar manusia yang dapat memengaruhi kehidupan. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan benda dan kesatuan mahluk hidup termasuk manusia terlibat di dalamnya. Manusia harus menyadari bahwa lingkungan merupakan sarana pengembangan hidup yang harus dijaga kelestariannya.

Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsure lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok pun tak henti mengajak masyarakat peduli dan peka terhadap lingkungan. Mereka menghijaukan Kota Depok lewat berbagai gagasan dan aktivitasnya.

Salah satunya dengan menggelar diskusi bertema: “Peran Masyarakat Dalam Mewujudkan Depok Kota Hijau Yang Asri” di Joglo Nusantara, Situ Pengasinan, Sawangan, Depok, Minggu (29/1). Hadir dalam acara tersebut Walikota Depok Mohammad Idris, Nirwono Yoga (pakar Tata Kota), Yonav Pratama (green design arsitektur), JJ Rizal (sejarahwan), Lendonovo (pendiri dan konseptor sekolah alam Indonesia/kampung dalam taman) serta Hadianto (unsur pengarah BNPB Pusat).

“Kami ingin membangun peran masyarakat. Di Depok banyak orang pintar. Tapi, sepertinya mereka sejauh ini tidak dilibatkan secara langsung. Lewat diskusi ini kami mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menghijauhkan lingkungan,” kata Heri Syaefudin Koordinator FKH.

Menurut Heri, seharusnya ketika pemerintah punya program besar, masyarakat ikut diajak urung rembuk. Ikut terlibat, ikut menanggapi, ikut mendukung. Masukan dari mereka kata Heri perlu didengar. Jangan sampai ujuk-ujuk program dijalankan tapi tak ada sosialisasi.

Henri mencontohkan soal rencana pembangunan alun-alun di pusat Kota Depok. Apalagi proyek ini kabarnya menelan biaya tidak sedikit, sekitar Rp 165 milair. Sebenarnya lebih strategis kalau alun-alun itu tidak dipusatkan pada satu titik. Tapi, disebar beberapa titik. Jadi ada banyak ruang terbuka hijau di Kota Depok.

“Secara kuantitas ruang, volmue bisa lebih banyak dan eksebilitasnya lebih masuk akal. Misalnya masyarakat butuh tempat bermain, butuh kenyamanan dan lain-lain. Tentu ini akan memberikan ruang tumbuh ideal bagi generasinya,” tuturnya.

Sementara itu, Walikota Depok Mohammad Idris mengatakan persoalan-persoalan kota seperti Kota Depok dapat dilakukan dengan pendekatan berbagi peran dan berkolaborasi. Bukan hanya diserahkan kepada pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab bersama.

Idris mencotohkan misalnya penanganan masalah sampah. Pemkot Depok telah menyediakan fasilitas tempat pembuangan sampah di Cipayung. Sejauh ini menurutnya sudah ada 32 UPS. Sebanyak 31 UPS di antaranya untuk sampah organik dan satu UPS campur. Hingga kini sampah di Depok mencampat 1.250 ton/hari. Sampah yang dibuang ke TPA tanpa dipilah sebanyak 670 ton/hari. Sisanya diproses 130 ton di 32 UPS. Dibantu oleh komunitas bank sampah sebanyak 432.

“Kami juga akan membuat kios untuk penjajakan kreativitas anak muda. Tahun ini 200 kios UMKM di Pasar Musi. Jadi ini sudah program kami. Kami ingin Kota Depok yang bersih, aman, dan nyaman bagi warganya,” tutur Idris.

Kota Depok menurut Idris kekuatannya terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM). Setu pengasinan misalnya kalau tak ada aktivis lingkungan hidup seperti FKH, tidak akan jalan.

Terakit dengan ruang kota hijau di Depok menurutnya masih didominasi kepemilikan pribadi. Depok sendiri memiliki warisan aset-aset berharga dalam 18 tahun terakhir. Hanya saja sebanyak 500 aset yang diserahkan ke Kota Depok semuanya belum bersertifikat.

“Tahun ini kami bekerjasama dengan BPN dan alhamdulillah sudah 90 aset yang berhasil disertifikatkan. Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk mensertifikatkan aset-aset lainnya,” katanya.*suryansyah

LEAVE A REPLY