>

www.korannasional.com–
Indonesia memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengatasi krisis yang disebabkan oleh faktor eksternal. Hal tersebut diungkapkan mantan menteri keuangan Dr Muhamad Chatib Basri, merujuk pada pengalaman Indonesia dalam mengatasi krisis.

‘’Dibandingkan dengan negara-negara yang digolongkan sebagai ‘Fragile Five’, Indonesia dan India adalah dua negara yang relatif lebih cepat pulih,’’ jelasnya.

‘Fragile Five’ adalah istilah yang saat itu digunakan untuk merujuk pada lima negara yang paling bergantung investasi asing sehingga rentan ambruk akibat gejolak ekonomi global. Kelima negara yang dimaksud adalah India, Indonesia, Brazil, Afrika Selatan dan Turki.

Basri mengungkapkan hal tersebut pada ‘The 1st Asia-Pasific Research in Social Sciences and Humanities Universitas Indonesia Conference (APRiSH)’ yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia. Konferensi yang mengundang para ahli terkemuka dari berbagai negara ini diselenggarakan di Margo Hotel Depok, 7-9 November 2016.

Tahun 2008-2014 merupakan periode yang sangat penting dan menarik bagi kebijakan makro ekonomi di negara maju maupun berkembang. Hal ini menyusul dikeluarkannya kebijakan yang disebut Quantitative Easing (QE) oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

‘’Kebijakan tersebut mengakibatkan terjadinya aliran dana masuk ke negara berkembang,’’ kata Basri. Pengaruh lainnya adalah memicu pertumbuhan ekonomi dan booming di sektor finansial, serta membaiknya nilai tukar di negara berkembang.

‘’Tapi seiring dengan membaiknya perekonomian AS, pada Mei 2013 The Fed mulai membicarakan kemungkinan mengakhiri kebijakan QE,’’ tambahnya. Kebijakan tersebut adalah mengurangi menyalurkan kredit untuk pembelian obligasi dan surat berharga serta rencana menaikkan suku bunga The Fed.

Walhasil terjadi perpindahan dana besar-besaran dari negara berkembang ke negara maju, khususnya AS. Negara-negara Fragile Five terkena imbas. Nilai tukar melemah secara dramatis, dan pasar saham serta obligasi sangat terpukul. Hal ini dikenal kemudian sebagai Taper Tantrum (TT).

Untuk menghadapi tekanan di pasar finansial, banyak negara ini mengeluarkan rangkaian kebijakan ekonomi makro. Menariknya,Indonesia dan India mampu mengatasi masalah ini dalam waktu yang singkat. ‘’Indonesia dan India berhasil menciptakan stabilisasi makro ekonomi yang dibuktikan dengan menurunnya defisit dan stabilisasi pasar finansial mereka,’’ kata Basri. (Ayoe)

LEAVE A REPLY