www.korannasional.com– Sebanyak 148 siswa ‘titipan’ yang merupakan korban percaloan PPDB Sekolah Negeri Depok tahun ajaran 2016-2017 ‘terdampar’ di SMAN 11 Depok.

Para siswa tersebut ‘dipaksa’ bersekolah dan belajar oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab di dua ruangan tanpa kursi, meja, dan papan tulis. Diruangan tanpa pintu dan jendela yang masih dalam proses pembangunan itu, para siswa hanya duduk-duduk di lantai tanpa ada guru yang mengajar.

Saat ini, SMAN 11 Depok yang kegiatan belajarnya di siang hari, masih menumpang di dua gedung SDN yakni di SDN 02 dan SDN 03 Kemiri Muka, Margonda, Beji, Depok.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pemerintah Kota (Pemkot)  Depok, Mohammad Thamrin  menegaskan, pihaknya sudah menutup proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masuk sekolah negeri di Depok tahun ajaran 2016-2017 sejak 1 Juli 2016. Tidak ada lagi penambahan rombongan belajar (rombel) siswa baru di semua sekolah negeri. Semua dilaksanakan sesuai aturan petunjuk telnis (juknis) dan petunjuk pelaksana (juklak) PPDB 2016 dan juga telah dikawal melalui panandatanganan pakta integritas yang disaksikan pihak Ombudsman.

“Kami meminta agar para orang tua siswa untuk tidak mau dimobilisasi oleh orang-orang tak bertanggungjawab karena sudah menganggu dan kami menyarankan para orang tua siswa yang anak tidak terima di sekolah negeri sebaiknya segera mendaftarkan ke sekolah swasta. Bagi yang tak mampu, biaya sekolah di swasta akan kami subsidi. Saya tegaskan lagi, siswa-siswa yang baru masuk ke SMAN 11 Depok itu ilegal, tidak resmi dan tak tercatat di Disdik Depok,” jelas Thamrin di Balaikota Depok, Rabu (31/8).

Dia juga mengimbau para orang tua siswa yang merasa dirugikan oleh para oknum tak bertanggungjawab yang memberikan harapan dapat bersekolah di negeri untuk melapor ke pihak kepolisian. “Itu penipuan, sebaiknya lapor polisi. Kami juga akan melapor ke polisi jika sekolah milik Pemkot Depok digunakan tanpa ijin,” imbuh Thamrin. (Mas Tete)

LEAVE A REPLY