>

korannasional.com–Keinginan agar market share (pangsa pasar) perbankan syariah tembus lima persen pada 2015 tidak terealisasi. Bahkan dilihat dari pencapaian 2015, harapan tersebut tampak makin menjauh. ‘’Pangsa pasar bank syariah di perbankan nasional turun dari 4,62 persen pada 2014 menjadi 4,60 persen pada 2015,’’ ujar Chairman Indostrategic Economic Intelligence, Guntur Subagja di Jakarta, Minggu (20/3/2016)

Menurut Guntur, berdasarkan neraca yang dipublikasikan di www.ojk.go.id, pada Desember 2014 aset perbankan syariah Rp 272,343 triliun sedangkan total aset perbankan Rp 5.888,493 triliun. Kemudian pada Desember 2015, aset perbankan syariah Rp 296,262 triliun sedangkan aset total perbankan Rp 6.428,845 triliun.

Secara nominal aset perbankan syariah naik, tetapi aset bank konvensional juga tumbuh, bahkan pertumbuhannya lebih cepat. Akibatnya, perhitungan akhir menunjukkan bahwa pangsa pasar bank syariah sedikit tergerus oleh pertumbuhan bank konvensional. Jika kondisi ini berlanjut, semakin lama pangsa pasar bank syariah semakin mengecil.

Dari hasil riset Indostrategic, salah satu faktor kunci yang membuat penurunan pangsa pasar itu, yakni turunnya aset Bank Muamalat. Bank syariah pertama di Indonesia itu mengalami penurunan aset 7,4 persen (Rp 4,61 triliun) dari Rp  62,413 triliun pada Desember 2014 menjadi Rp 57,802 triliun pada Desember 2015 . Jika saja aset Bank Muamalat tidak turun, pangsa pasar bank syariah sedikit naik, yakni sekitar 4,66 persen.

Namun lepas dari penurunan aset Bank Muamalat yang berakibat pada menurunnya pangsa pasar perbankan syariah, secara umum perkembangan syariah bisa dikatakan stagnan. Tidak ada terobosan berarti yang dilakukan oleh pelaku bank syariah untuk menaikkan modal dan asetnya, juga tidak ada langkah berarti yang dilakukan oleh pemerintah.

Masalah permodalan misalnya, dari 12 bank syariah, sebanyak 6 bank masih bermodal di bawah Rp 1 triliun, 5 bank dengan modal Rp 1-Rp 5 triliun, dan hanya Bank Syariah Mandiri yang menembus ke Buku III perbankan nasional, yaitu bank dengan modal antara Rp 5 triliun sampai Rp 30 triliun. Sejak akhir tahun lalu, setelah disuntik Rp 500 miliar, modal inti Bank Syariah Mandiri Rp 5,41 triliun.

‘’Bank jika modal tidak ditambah dia tidak bisa mengembangkan aset, jadi kalau tidak ada penyuntikan modal dan hanya mengandalkan pertumbuhan organik, aset bank syariah akan makin tertinggal,’’ terang Guntur.

Dari sisi manajemen, perbankan syariah juga masih kurang kreatif dalam memunculkan produk-produk perbnkan, sehingga terlihat tidak variatif. Dari hasil kajian OJK, produk perbankan syariah hanya sekitar 15, sedangkan di Malaysia sudah 45 varisi produk.

Dalam hal pelayanan, secara keseluruhan bank syariah juga masih kalah dibanding dengan bank konvensional, termasuk dalam penggunaan teknologi informasi. Perlu terobosan-terobosan teknologi yang mengangkat perbankan syariah ke level pelayanan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, peran pemerintah juga masih setengah-setengah, tidak toal dalam mengembangkan perbankan syariah. ‘’Seharusnya dana-dana pemerintah yang di APBN sebagian bisa ditempatkan di bank syariah, itu akan mengangkan aset secara signifikan. seperti itu yang dilakukan Malaysia sehingga peran perbankan syariah kian besar,” pungkas Guntur. (Rizky M)

LEAVE A REPLY