>

KORANNASIONAL.COM – Bicara soal pertanian tidak hanya sekadar mengolah lahan dan memproduksi hasil panen, namun harus menguasai pengetahuan tentang pasar dan branding.

“Saya mengamati kenapa sih pertanian di Indonesia ini sulit maju, dari situ saya tahu kendala besar petani kita yaitu kesulitan mencari pasar, membranding produk mereka serta akses permodalan,” tutur Jatu sebagai narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 68, Rabu (20/04).

Jatu Barmawati merupakan founder dan CEO Ayomart yang dirintis sejak tahun 2016.  Lulusan Fakultas Pertanian UGM (2014) ini menjadi salah satu Duta Petani Milenial andalan Kementerian Pertanian.

Jatu menuturkan nama Ayomart merupakan akronim dari Agriculture Youth Organization. Seperti namanya, Ayomart terdiri dari para petani milenial dari berbagai daerah. “Kami berkolaborasi dengan petani milenial di Jawa, Kalimantan Selatan dan beberapa daerah lainnya,” tutur Jatu.

Ayomart berfokus mengekspor buah eksotis yang ada di Indonesia, “jadi kami tidak hanya sekedar menjual, tetapi juga mengedukasi konsumen bahwa Indonesia itu memiliki kualitas buah yang bagus, unik, bervariasi dan sehat”.

Buah-buahan yang di ekspor seperti manggis, mangga podang khas kediri, buah naga dan lainnya. Untuk pasarnya sendiri sudah sampai Eropa, sedangkan untuk keju baru sampai Singapura. “Keju yang kami ekspor merupakan keju asli buatan Jogja yaitu organic cheese artisan, terbuat dari susu murni organik produksi petani milenial. Saat ini sudah ada 13 varian keju,” ujar Jatu.

Sejak dirintis hingga tahun 2019, Jatu berhasil mengembangkan pasar, mulai dari awal mengikuti pameran lalu menjadi supplier manggis untuk ekspor, hingga memiliki perusahaan ekspor sendiri. “Tahun 2020 kami coba buka lahan sendiri, namun gagal karena ada pandemi sehingga permintaan ekspor pun tutup. Dari situ kami merasakan kebangkrutan parah. Tapi memang the power of milenial, sudah bangkrut tetap usaha lagi karena kami yakin sektor ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan”, urainya sambil tertawa.

Jatu mengatakan dalam satu tahun ia sudah bisa bangkit kembali dengan berinovasi menciptakan produk nilai tambah dari buah serta mengekspansi pasar lokal. Jatu pun berpesan untuk bisa menjadi eksportir yang andal wajib memiliki good personality, financial & management.

Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat, M.Sc., yang juga hadir dalam webinar ini turut menyampaikan apresiasinya kepada Jatu. “Buah-buahan Indonesia kalau dikelola dengan baik memang sangat menguntungkan, dan Jatu sangat luar biasa mampu memaksimalkan potensi desa. Semoga Jatu bisa memotivasi para pemuda lain untuk kembali ke desa, membangun Indonesia dari desa”.

Guntur Subagja, selaku ketua umum Intani dalam pengantarnya juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk buah. “Sejak dulu Indonesia dikenal dunia sebagai produsen terbesar buah tropikal dan rempah-rempah. Jatu ini cerdas mampu mengekspansi pasar global dengan buah-buah yang tidak umum, yang biasanya pisang, nanas”.

“Apa yang dilakukan Jatu patut menjadi contoh bagaimana menjaga kualitas dan kontinuitas ekspor yaitu berkolaborasi dengan banyak petani di berbagai daerah untuk mensiasati musim buah serta membuat produk nilai tambah,” pungkas Guntur.

Webinar dengan tema ‘Cerita Sukses Eksportir Buah dan Keju ke Mancanegara’ ini ditayangkan streaming di TANITV.*

LEAVE A REPLY