>

KORANNASIONAL.COM–Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!) bersama Mitra Mikro Social Investment berkolaborasi untuk turut mendorong pengembangan ekonomi syariah menuju gaya hidup (lifestyle).

Selain melakukan literasi, juga mengimplementasikan ekonomi syariah pada sektor riil, khususnya berbasis sektor pertanian serta usaha mikro dan kecil, diantaranya melalui model bisnis wakaf uang dan wakaf produktif yang memberikan manfaat ekonomi dan manfaat sosial tinggi.

“Gres! sejak 2013 sudah meluncurkan gerakan ekonomi syariah dan saat ini momentum untuk akselerasi ekonomi syariah menjadi gaya hidup,” ungkap Guntur Subagja, aktivis Gres!, dalam Webinar Gres! Talk bertajuk “Manajemen Investasi Wakaf Produktif Motor Penggerak Ekonomi Syariah”, Rabu (22/9/2021).

Webinar menghadirkan narasumber para penggagas Gres!, yaitu Dr Halim Alamsyah (Tenaga Ahli Menteri Keuangan, A Iskandar Zulkarnain (Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji/BPKH), Ismi Kushartanto (bankir syariah), dan Guntur Subagja (Sekretaris Lembaga Wakaf MUI/Pembina Mitra Mikro). Webinar dipimpin moderator Media Arief Rizky (CEO Mitra Mikro Social Investment).

Tenaga Ahli Menteri Keuangan Dr Halim Alamsyah memaparkan potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp 2.000 triliun dan potensi wakaf uang Rp 188 trilun.

Namun potensi itu belum optimal karena pemahaman wakaf masih rendah, pencatatan data yang lemah, serta kolaborasi masyarakat dengan pengusaha – pemerintah- pemuka agama belum optimal. “Banyak model wakaf yg dikembangkan,” kata Halim Alamsyah. Ia memberi contoh salah satunya Cash Wqf Link Sukuk (CWLS) hasil kolaborasi Kementerian Keuangab – Badan Wakaf Indonesia – nazhir wakaf.

Menurut Guntur, nazhir wakaf harus memiliki kemampuan manajemen aset, manajemen investasi dan kewirausahaan. “Wakaf uang dan wakaf produktif dapat menjadi motor akselerasi ekonomi syariah,”ujar Guntur yang juga menjabat Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI.

Anggota Badan Pelaksana BPKH A Iskandar Zulkarnain menyampaikan BPKH sudah mengimementasikan wakaf produktif dalam investasi CWLS dan APIF, lembaga Islamic Develompment Bank (IsDB). BPKH juga menyiapkan model implementasi wakaf produktif berupa Kerjasama Operasi (BOT) bersama nazhir wakaf.

BPKH mengelola dana haji sekitar Ro 150 triliun yang diinvestasikan pada instrumen keuangan syariah. Sementara untuk mendukung sosial umat dan keagamaan berupa dana kemaslahatan umat dari hasil pengelolaan Dana Abadi Umat (DAU).

Ismi Kushartanto yang sebelumnya menjabat Direktur Eksekutif Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) memaparkan Gerakan Ekonimi Syariah sejak 2013 dan hingga kini memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonimi syariah. “Pada 2013 aset perbankan syariah baru Rp 200 triliun meningkat tiga kali lipat me jadi Rp 600-an miliar,” kata Ismi.

Ismi memaparkan, Gres! bertransformasi menjadi Yayasan Gres! untuk terus berkiprah dalam pengembangan ekonomi syariah nasional. “Programnya kita sesuaikan dengan perkembangan saat ini,” jelasnya.

Sementara itu CEO Mitra Mikro Social Investment, M Arief Rizqie, menjelaskan bahwa Yayasan Mitro Mikro adalah nazhir wakaf yang terdaftar di Badan Wakaf Indonesia.
“Kami memiliki beberapa model bisnis berbasis wakaf untuk sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM,” katanya.(kn)

LEAVE A REPLY