>

KORANNASIONAL.COM–“Merdeka!” ujar Ketua Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI) Prof. Harkristuti Harkrisnowo, SH, MA, Ph.D, saat mengawali sambutannya pada Apresiasi Seni dan Pagelaran Ketoprak Daring dalam rangka merayakan kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia, dengan lakon berjudul “Dewi Sri Tanjung” (DST), selasa (17/8/2021.

“DGB UI membawa misi menggerakkan kebudayaan menghidupkan tradisi. Terima kasih kepada Makara Art Center (MAC) dan para Guru Besar (GB) yang telah ikut berpartipasi mewujudkan pementasan ini di tengah-tengah kesibukan mengajar. Semoga bisa menghibur para penonton dari cerita dan lakon-lakon yang diperankan oleh para GB UI,” katanya.

Prof. Dr. Titik Pudjiastuti selaku pimpinan produksi, membuka pementasan dengan menyanyikan lagu Koesplus berjudul “Seandainya Kau Datang Kembali” yang menjadi lagu penutup pada pementasan grup Ketoprak GB UI yang pertama.

Menurutnya karena lagu tersebut, GB UI tidak tinggal diam, meski harus bekerja dari rumah, jiwa hasrat dan seni tetap berkobar untuk mementaskan Ketoprak lagi dengan satu tujuan menghibur para penonton agar lupa sejenak dengan pandemi yang melanda dunia.

Lakon berjudul DST dimainkan oleh 26 profesor lintas fakultas di UI–dari FK, FKG, FT, FMIPA, FPsikologi, FISIP, FIA, FIB, FH, FEB, FF, dan FKM–berperan sebagai tokoh dan pemain dalam pagelaran Ketoprak GB UI. Kisah tersebut membawa pesan moral, yaitu kebaikan akan selalu menang dari kejahatan.

Ketoprak GB UI yang dipentaskan bukan Ketoprak yang bermain di atas panggung dengan iringan gamelan, melainkan Ketoprak yang dipertontonkan secara daring, yang kemudian disebutnya ‘Ketopring’. Oleh karena itu, semua kegiatan Ketoprak dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah masing-masing, sesuai perannya, latihan hanya bertemu di dunia maya, tidak ada pertunjukkan olah tubuh, dan sutradara hanya mengarahkan intonasi suara dan mimik wajah.

“Sungguh luar biasa, meskipun sibuk mengajar dan kegiatan lainnya, para GB UI tetap semangat dan ceria sewaktu latihan. Yang lebih menakjubkan, ketika para GB harus membuat rekaman sendiri, sesuai peran masing-masing dengan sukarela. Kreativitas muncul, harus dandan sendiri, dan memakai kostum yang diusahakan sesuai dengan cerita, maka jubah hitam GB UI ikut digunakan,” ujar Prof. Titik.

Kisah Dewi Sri Tanjung dipercaya sebagai legenda yang hidup dalam memori kolektif masyarakat Banyuwangi. Kisah ini menandai lahirnya istilah ‘banyu wangi’ yang berarti air yang berbau wangi. Legenda itu sendiri mengisahkan Dewi Sri Tanjung yang tidak lain adalah keturunan dari keluarga Pandawa.

Cerita yang dipertunjukan oleh Ketoprak Guru Besar UI ini bermula dari Raden Sidapaksa yang selesai berguru kepada Ajar Maharesi, seorang resi dari pertapaan di lereng gunung Raung.

Resi tersebut memerintahkan Raden Sidapaksa untuk mengabdikan diri kepada Raja Sulakrama di kerajaan Sindureja dan menerapkan ajarannya di bawah bimbingan raja tersebut. Perjalanan turun gunung pun dilakukan dan sampailah ia di kerajaan yang kemudian Raja Sulakrama menerima pengabdiannya.

Prof. Dr. Agus Aris Munandar sebagai penyusun skenario kisah DST, mengatakan bahwa tujuan mengangkat kisah DST adalah mengingatkan kembali cerita-cerita yang digubah oleh nenek moyang dalam zaman Majapahit yang bersifat pendidikan (didaktik).

Didaktik dan Religius

Menurutnya, cerita DST bersifat didaktik dan religius, karena ada di pahatan pada candi-candi. Prof. Agus menceritakan latar belakang pemilihan kisah DST, yang diawali dengan keinginan untuk mengangkat kisah Panji dalam versi yang berbeda, atau kisah Sudamala dan Arjunawiwaha.

“Namun, terlalu panjang oleh karena itu, pemilihan kisah DST ini juga karena sarat nilai pendidikan yaitu kebajikan dapat menang walaupun dihina atau tersingkir. Kisah DST ini sudah langka dikenal oleh para generasi muda dan sebagai langkah awal grup Ketoprak GB UI untuk menghadirkan kembali banyak kisah tradisional Nusantara. Selamat menikmati dan silakan mengambil makna dari cerita DST,” ujarnya.

Dr. M. Yoesoev selaku Sutradara, menyampaikan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya menyutradarai secara virtual.

“Bagaimana kami berproses secara daring, lalu memberikan intruksi kekurangan selama latihan dan persiapan. Pagelaran Ketoprak GB UI ini 98% merupakan hasil karya dan kreasi para GB UI yang ikut dalam pertunjukkan. Para GB merekam sendiri, kemudian diolah Prof. Asep. Kreativitas para GB ini bukan hanya dalam proses perekaman, juga tata busana dan tata rias dari para lakon,” ujarnya.

Selain itu, Dr. Yoesoev mengatakan berbekal pengalaman pada pementasan yang pertama, sehingga para lakon sudah sangat piawai menempatkan karakternya.

Prof. Dr. Ir. Asep Handayana selaku penyunting dan penyelaras video, mengungkapkan bahwa proses pengerjaan editing dilakukan selama enam bulan, ada 237 video yang digabungkan.

Ia mengatakan bahwa pentingnya green screen, kemudian kendala kualitas kamera, posisi para lakon dalam layar, serta tidak adanya pengarah gaya/kamera merupakan kendala yang dihadapi saat proses penyuntingan.

Senada dengan Prof. Asep, Dr. Yoesoev juga mengatakan bahwa kendala teknis adalah ketika menerima video rekaman yang sudah dikirim oleh para lakon, kemudian menyatukan suasana dalam satu adegan. Kemudian ia dan Prof. Asep juga menentukan ilustrasi musik dalam adegan guna menutupi kekurangan dalam video. “Hal yang penting adalah bagaimana menyatukan emosi dalam sebuah drama,” ujar Dr. Yoesoev.

Prof. Harkristuti juga menyampaikan tantangan selama proses produksi diantaranya bagaimana bisa mengumpulkan 50 orang GB UI dalam dua kali seminggu untuk latihan olah suara dan tata gerak.

Hal ini merupakan usaha para GB UI untuk tetap memperhatikan kesehatan meningkatkan imunitas di tengah pandemi dan juga tetap memberdayakan diri menggali kebudayaan. “Perjuangan yang luar biasa, harapannya ke depannya bisa menyelenggarakan lagi,” ujarnya.

Dr. Ngatawi Al-Zastrow (Kepala Makara Art Center UI) mengatakan, “Persembahan para GB UI ini merupakan sentuhan kebudayaan, merajut hati merawat imunitas.”

Inovasi Baru

Menurutnya ini adalah event kebudayaan yang luar biasa dalam memperingati Hari Kemerdekaan, sebuah inovasi baru, yaitu Ketoprak Virtual. Zastrow berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi generasi muda, yaitu membuat teater/sendratari virtual.

Ia mengatakan bahwa mitologi maupun sejarah bisa dipahami sebagai sumber referensi/pelajaran dari kisah/lakon untuk inspirasi dalam kehidupan. Penonton diharapkan dapat memaknai sendiri pesan dalam Pagelaran Ketoprak. “Ambil yang jernih, buang yang tidak baik. Mari meningkatkan imunitas dengan kreativitas,” ujarnya.

Pagelaran Ketoprak Virtual GB UI memanen apresiasi dan disambut antusias oleh lebih dari 300 penonton di kanal Youtube MAC UI dan 100 peserta di platform Zoom. Penonton yang hadir menyaksikan tidak hanya dari sivitas akademika UI, juga ada dari Universitas lain seperti Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Sumatera Utara.

Arie Soesilo, Dekan FISIP UI, mengatakan, “Pagelaran tersebut luar biasa. Talenta-talenta tersembunyi para guru besar UI seperti Prof. Fuad Hassan tuliskan Panji-panji Ilmu dan Seni Berkibar Tinggi di Almamater ini. Salam sukses dari FISIP UI.”

Selain itu, Meirani Suyawan dari FHUI yang menyampaikan kekagumannya pada pementasan Ketoprak GB UI.(*/md)

LEAVE A REPLY