JAKARTA – Mendengar nama Kota Tua Jakarta Barat, identik dengan sepeda ontel. Ada juga orang-orang yang berpakaian seperti lady dan manusia silver yang selalu stand by. Mereka
memanjakan pengunjung agar bisa berfoto dengan mereka.

Dan juga para PKL yang menghiasi sepanjang wilayah Kota Tua. Apalagi menjelang malam libur atau week end Kota Tua terlihat ramai oleh pengunjung dari seluruh wilayah Jakarta, sekadar jalan jalan ataupun menikmati kuliner kaki lima serta pernak pernik yang di jual di pelataran Kota Tua.

Kota Tua menjadi daya tarik Jakarta untuk sekadar melihat keunikan di Kota Tua, hingga tak heran selalu terjadi kemacetan pada penghujung minggu.

Seperti diutarakan Yayat Sujatna, selaku Direktur Utama Konsorsium Kota Tua, merasa prihatin dengan pelaku UMKM di Kota Tua yang mati suri saat pandemi COVID19 ini.

“Sejak diberlakukannya PSBB sampai dengan saat ini memberikan dampak langsung secara ekonomi yang cukup terasa bagi para pelaku UMKM dan para  pekerja seni di Kota Tua Jakarta,” ujar Yayat Sujatna.

Yayat berharap agar Pemprov dapat memberikan kebijakan untuk membuka kembali kawasan Kota Tua Jakarta bagi para pengunjung atau wisatawan yang tentunya tanpa mengabaikan protokol kesehatan dan peraturan yang telah ditetapkan.

Misalkan kapasitas tempat yang dikunjungi maksimal 50% dan sebagainya. Hal ini sangat diharapkan oleh mereka yang mata pencahariannya  tergantung dengan dibukanya Kota Tua Jakarta khususnya Taman Fatahillah.

Disisi lain dengan dibukanya kembali Kota Tua Jakarta juga diharapkan dapat menghidupkan kembali denyut nadi perekonomian di kawasan Kota Tua Jakarta yang sejak beberapa bulan ini seperti kota “mati”.

“Harapan para pelaku UMKM Kota Tua agar pemprov membuka kembali secepatnya kawasan Kota Tua, agar mereka bisa kembali bekerja dan bisa mandiri secara ekonomi untuk kebutuhan keluarganya yang selama pandemi ini telah meluluh lantakan perekonomian keluarga mereka hingga di titik nadir,” tandas Yayat diakhir wawancaranya.*surya