DEPOK – Bramastyo Bontas tidak sakit hati dengan siapapun. Keputusannya meninggalkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena pilihan hati. Dia merasa lebih sreg memilih Pradi Supriatna ketimbang Mohammad Idris untuk calon Wali Kota Depok 2020 Desember nanti.

“Saya bukan barisan sakit hati. Nggak ada itu. Saya nggak sakit hati sama siapapun. Saya nggak ada masalah dengan rezim sebelumnya. Saya jarang banget komunikasi dengan Idris. Bahkan hampir tidak pernah,” kata Bramastyo Bontas, mantan pengurus DPD PKS.

Bramastyo terang-terangan mendukung pasangan calon Wali-Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna-Afifah Alia dalam Pilkada Depok 9 Desember 2020 nanti. Menurutnya pasangan nomor urut 1 ini lebih pas untuk menjalankan kepemimpinan di Kota Depok agar lebih baik.

“Saya memang sedang berkomunikasi dengan Pradi. Banyak agenda dan isu yang dibahas ketimbang Pak Idris (kandidat dari PKS),” kata Bram saat dikonfirmasi pada Kamis 15 Oktober 2020

“Secara logis Pradi bisa menjalankan program Depok lebih baik. Makanya saya lebih ke Pradi ketimbang Idris,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan Pradi lebih komunikatif dan mempunyai inovasi yang diperlukan sebagai pemimpin. Bramastyo menilai Pradi lebih mampu untuk membuat Pemerintah lebih inovatif.

Menurutnya, Pradi sosok yang tepat untuk memimpin Kota Depok, ketimbang Idris sang petahana yang saat ini maju bersama Imam Budi Hartono kader PKS.

“Saya melihat secara logis pak Pradi bisa menjalankan itu. Permasalahan utama kenapa saya memilih, karena ke depan janji yang ditawarkan kedua calonnya tidak akan berjalan kalau akses dukungan daerahnya enggak bisa naik,” kata dia.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Teritorial Partai Gelora Depok itu juga menilai untuk mempunyai inovasi maka yang diperlukan adalah komunikasi dari seorang pemimpin.

“Yang bisa melakukan inovasi itu saya melihat ada pada Pradi. Ya, lebih mampu untuk membuat pemerintahan yang lebih inovatif.”

Namun demikian Bram tak menampik, saat masih menjabat sebagai pengurus PKS Depok ia jarang sekali berkomunikasi dengan Mohammad Idris.

Ketika disinggung apakah ada mantan atau kader aktif PKS yang juga memilih mendukung Pradi-Afifah, Bram pun tak menampik hal itu.

“Saya pikir ada ya, tidak mengutarakan secara jelas statement mungkin enggak, karena memang banyak hal yang melatarbelakangi itu,” kata dia.

Ia menyebut, salah satu alasan mendasar itu adalah karena ketidakpuasan atas kinerja Idris.

Mereka menilai Idris tidak bisa melakukan inovasi dan perubahan terhadap layanan publik. “Kalaupun ditanya, ya tidak akan jawab. Tapi mereka secara diam-diam mendukung Pak Pradi,” katanya.

Untuk diketahui, Pradi-Afifah diusung oleh Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PSI dan PAN serta enam partai non parlemen lainnya dengan jumlah 33 kursi di DPRD Depok. Sedangkan Idris-Imam disokong PKS, PPP dan Demokrat nomor urut 2.*surya