DEPOK – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkuasa selama 15 tahun di Depok. Tapi, anehnya Depok tak punya Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Depok digaungkan sebagai kota religius. Tapi sekolah berbasis agama justru luput dari perhatian. Depok tak punya Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) pun hanya satu di Cilodong. Hal itu membuat warga Depok kesulitan setiap ajaran tahun baru sekolah.

“Selama 15 tahun Depok digaungkan sebagai kota religius kok malah sekolah berbasis agama dilupakan. Ini Depok sampai saat ini tidak punya MAN, MTsN pun hanya satu,” kata anggota DPRD Depok Rizky M Noor ditemui di sela-sela konsolidasi PAC Partai Gerindra untuk kemenangan Pradi-Afifah di kawasan Cinere Depok, Minggu (11/10/2020).

Menurut Rizky, untuk bisa mewujudkan visi Kota Depok yang religius, tentunya keberadaan madrasah negeri ini masih sangat kekurangan. Oleh karena itu, diharapkan keberadaan madrasah negeri, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri, MTs Negeri, MAN bisa dibangun secara bertahap di Kota Depok.

“Padahal warga Depok sangat mengharapkan adanya MAN dan penambahan MTsN. Karena banyak yang ingin memasukan anak mereka ke sekolah agama. Sementara sekolah Islam yang dikelola swasta kan mahal,” ujar Rizky.

Tak hanya MAN yang jadi sorotan, sekolah umum negeri setingkat SMA pun masih kurang. “Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dan luas wilayah, tentu sekolah setingkat SMA kita sangat kurang,” ujar Rizky.

“Karena itu program memperbanyak sekolah setingkat SMA, termasuk mendirikan MAN menjadi program yang diharapkan masyarakat. Kita pikirkan sekolah anak-anak kita,” kata anggota dewan dari Gerindra ini.

Sementara itu anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Nuroji, dirinya sudah berkali-kali mendorong agar Depok membangun MAN dan memperbanyak sekolah.

“Memang pembangunan madrasah negeri tidak seperti membangun sekolah umum. Pembangunan madrasah negeri memerlukan persetujuan dari berbagai pihak, di antaranya Kemenag Pusat dan Kementerian Keuangan. Tapi bukan berarti tidak bisa, hanya saja tidak mau usaha,” kata Nuroji.

Dimata Nuroji, selama 15 tahun walikota yang diusung PKS tidak bergerak menjalin komunikasi dengan Kementerian Agama dan Kemenkeu. Padahal anggaran untuk itu di pusat ada.

“Masalahnya tidak mau usaha. Masa iya 15 tahun berkuasa membangun satu aja sekolah MAN tidak bisa. Makanya kita ingin perubahan. Kita ingin walikota yang mampu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Termasuk menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat demi Depok yang berkembang maju,” kata Nuroji.

Menurut Nuroji, calon walikota Depok Pradi Supriatna mampu mewujudkan mimpi kota Depok memiliki MAN. “Makanya kita dukung Pradi-Afifah. Saya kenal Pradi sudah lama dan saya yakin Pradi bisa menjalin komunikasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.

“Lobi ke pusat dan provinsi untuk menambah DAU harus ada, karena anggaran provinsi ada. Hanya saja Depok tidak pernah mengajukannya. Jadi selama ini apa saja kerjaannya, kampanye pribadi? Partai?” Nuroji mempertanyakan.

Menurut Nuroji selama ini walikota tidak kreatif. Padahal banyak yang harus dibangun.”Nah kalau nanti Pradi-Afifa terpilih, saya yakin mereka bisa kreatif. Depok bisa lebih maju,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Relawan Pradi-Afifah Kota Depok H Purnomo kembali menyoroti netralitas ASN. “Kita tahu mereka punya cengkraman ke ASN lebih kuat, punya anggaran lebih banyak, tapi kita jangan putus asa. Kita punya semangat yang tidak bisa dikalahkan dengan apa pun,” kata Purnomo.*sur