DEPOK – Anggota DPRD Kota Depok Fraksi PKB, Babai Suhaimi menyoroti maraknya propaganda di media sosial tentang Pilkada 2020. Tagline: PKS vs PDI-Perjuangan jadi ‘jualan’ salah satu paslon.

Babai mengingatkan masyarakat jangan terpengaruh oleh partai politik. Tapi lebih melihat pada program yang ditawarkan pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota pada Pilkada Depok 2020.

“Jangan melihat partai pengusungnya. Tapi, program apa yang ditawarkan dari kedua paslon. Masyarakat Depok saya yakin sudah cerdas dalam menentukan pilihannya. Jangan ‘diadu’ satu partai dengan partai lainnya,” kata Babai.

Pradi Supriatna-Afifah Alia mendapat nomor urut satu. Pasangan ini didukung oleh partai Gerindra, PDI-Perjuangan, Golkar, PKB, PAN, dan PSI.
Sedangkan rivalnya nomor urut dua, pasangan Idris-IBH disokong PKS, PPP, dan Demokrat.

“Pilkada adalah tempatnya untuk menyampaikan ide-ide dan gagasan-gagasan baik untuk kesehjateraan masyarakat, yang akan dilaksankan oleh pemerintahan daerah,” ungkap Babai.

Lebih lanjut Babai mengatakan banyak persoalan yang harus dihadapi pemimpin kota Depok ke depan. Sebaiknya paslon Wali Kota dan Wakil menyampaikan ide-ide pembangunan kota Depok.

Dalam perjalanan Depok sejak 1999 menurut Babai belum memiliki rumah sakit yang memadai. Tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Kata Babai itu salah satu contoh.

“Depok juga dinobatkan sebagai kota yang trotoarnya tidak manusiawi. Mungkin paling jelek se-Indonesia bahkan dunia,” ujarnya yang mengakui miris dengan kondisi jalan Kota Depok.

Lebih jauh Babai menuturkan Depok dengan tagline Kota Depok Unggul, Nyaman dan Relijius ternyata belum memiliki sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri. Saat ini cuma baru ada satu sekolah Madarsah Tsanawiyah (MTs) Negeri.

“Itu pun hibaan dari Kota Bogor,” tuturnya.

Di bidang pendidikan, menurut Babai juga tidak berbanding lurus. Ketimpangan jarak dengan zonasi yang jadi aturan membuat banyak anak-anak pintar yang tak dapat negeri.

“Inilah rangkaian masalah di Depok. Program-program ini yang kita gelontorkan dari paslon Pradi-Afifah. Kita cari solusinya,” tegas Babai.

Persoalan lain yang tak kalah penting di Depok lanjutnya adalah destinasi. Padahal potensi itu banyak. Dia mencontohkan ada 26 setu berukuran besar maupun kecil. Tapi, tidak dikelola secara serius, sehingga tidak bisa diangkat sebagai tempat wisata.

“Akhirnya banyak masyarakat yang nongkrong di taman perumahan. GDC misalnya. Bahkan banyak pedagang kaki lima. Ini membuat suasana jadi kumuh,” tuturnya.

“Alun-alun itu taman kota. Tidak didesain bagaimana kenyamanan bagi masyarakat yang datang untuk menikmati jajanan kota Depok. Tidak ada stand yang disiapkan untuk pedagang maupun UMKM Depok.”*Sur