JAKARTA – Pada tahun 2045, saat Indonesia akan berusia 100 tahun, pemegang tampuk kekuasaan serta pemangku kepentingan produktif Indonesia berada di tangan generasi yang saat ini kita sebut sebagai ‘Millennial’. Ini karena generasi muda yang kini berusia 15-29 tahun berjumlah 64.938.700 jiwa, atau sekitar 25 persen dari penduduk Indonesia.

Pernyataan itu ditegaskan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menjadi pembicara pada Indonesia Millenial Summit (IMS) di Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu, 19 Januari 2019.

Di luar gedung pertemuan, panitia menggelar polling sederhana, tentang bagaimana pendapat anak muda tentang Pilpres 2019, serta apakah generasi milenial percaya bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan pendapatan tinggi sebelum 2045.

Hasilnya? Para peserta Indonesia Millenial Summit banyak yang menjawab ‘of course’ daripada ‘i don’t think so’.

Maka, ayo optimistis, anak muda Indonesia!

Tampil sepanggung bersama Menteri ESDM Ignasius Jonan, jurnalis senior Najwa Shihab dan dimoderatori presenter televisi Beverly Gunawan, Moeldoko menekankan perhatian besar pemerintahan Presiden Jokowi pada generasi milenial.

“Itulah mengapa pemerintah menganggap penting generasi milenial, karena sangat berperan bagi kelangsungan bangsa ini. Kepada anak-anak muda inilah kelak kepemimpinan di negeri ini kami titipkan,” kata Moeldoko.

Sejalan dengan signifikansi kuantitas generasi muda tersebut, dari segi kualitas, Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan memberikan arahan agar generasi muda menjadi fokus dalam menjadi mitra membangun bangsa.

“Presiden Jokowi menyatakan, di mana ada perubahan, di situ ada peran anak muda. Selain itu, generasi muda harus menjadi agen perubahan serta agen toleransi dan perdamaian,” tegas Panglima TNI 2013-2015 ini.

Untuk itu pada setiap kesempatan, Moeldoko selalu mengajak kepada generasi millenial untuk selalu optimistis dalam menatap masa depan bangsa ini.

“Saya yakinkan kita memiliki resources, baik dari segi sumber daya alam maupun SDM. Indonesia akan menjadi bangsa yang maju,” tegas mantan Wakil Gubernur Lemhanas itu.

Indonesia Maju

Moeldoko memaparkan, berbagai lembaga survei Internasional telah melakukan prediksi atas kemajuan bangsa kita, seperti surbei Mc Kinsey yang memprediksi Indonesia berada pada peringkat ketujuh untuk PDB tertinggi di dunia pada tahun 2030.

Prediksi serupa juga dikeluarkan oleh Price Waterhouse Cooper (PWC) di mana kita akan diprediksi menjadi negara kelima dengan PDB tertinggi di tahun 2030 bahkan peringkat keempat pada tahun 2050.

“Lalu apakah masih pantas jika kita yang masyarakat Indonesianya sendiri justru malah pesimis menatap masa depan bangsa kita? Sungguh ironi!” tegas peraih Bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akademi Militer 1981 itu.

Pada kesempatan ini, Moeldoko menggarisbawahi bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan Presiden Jokowi semata-mata demi pemerataan kesejahteraan di seluruh Indonesia. Jokowi ingin rangkaian pulau, laut, dan udara Indonesia bisa saling terhubung, sehingga negara kita bisa semakin bergerak maju.

“Selama ini kita hanya menyanyi, ‘sambung menyambung menjadi satu’, tapi di zaman Pak Jokowi inilah lagu itu bisa terealisasi,” ungkapnya.

Diuraikan Moeldoko, hingga 2018, kita sudah membangun 3432 KM jalan, 10 bandara baru, serta 19 pelabuhan baru. Semua itu demi mengubah paradigma pembangunan dari javacentris menjadi Indonesia Centris.

“Presiden Jokowi berharap tidak hanya masyarakat di kota yang dapat merasakan manfaat pembangunan, tetapi juga masyarakat desa dan daerah terpinggir,” jelasnya.

Moeldoko juga memberikan pesan penting bagi anak muda untuk melawan serbuan berita palsu atau hoaks. “Bijaklah memilah mana yang ‘noise’ dan mana yang ‘voice’ dalam percakapan di media dan media sosial. Silahkan memberikan kritik yang konstruktif dan bisa jadi masukan solusi daripada kritik asal nyinyir,” ungkapnya.

Dipaparkan, pemerintah selama ini selalu menjawab kritik atau tuduhan yang diarahkan dengan berdasarkan data yang valid. Ini karena pemerintah ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya budaya bertukar pendapat yang santun dan terpelajar.

Namun pemerintah juga perlu bantuan dari masyarakat. Bantuannya apa? “Dengan kritis dulu saat menerima suatu informasi, tidak langsung percaya dan share tanpa melakukan kroscek kebenarannya,” kata Moeldoko.

Ia menjelaskan, di era teknologi seperti sekarang ini, untuk melakukan cek kebenaran informasi sangat mudah, cukup melalui google saja bisa terlihat apakah suatu informasi akurat atau tidak. Hanya saja masyarakat sering kali suka enggan melakukannya, maunya menjadi netizen pertama yang share sehingga buru-buru menyebarkan suatu informasi tanpa mengecek dulu kebenarannya.

“Akibatnya, hoaks pun jadi cukup marak seperti saat ini,” ujar Moeldoko.

Indonesia Milenials Summit digelar oleh IDN Times dihadiri ratusan anak muda kisaran umur 14- 35 tahun. Pembicara dalam konferensi sehari ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai Wakil Presiden Jusuf Kalla, menteri-menteri Kabinet Kerja, atlet berpretasi, pengusaha sukses, politisi, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan, ada dua kunci sukses kepemimpinan, termasuk yang mengantarkan pria lulusan Harvard University ini menjadi Dirut PT KA dan dua kali jadi menteri.

“Bekerja keras dan dapat menjadi contoh bagi orang lain. Itulah ilmunya jadi pemimpin,” tegas Jonan. (ksp/kn1)