www.korannasional.com-Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen Mei 2018 mengalami inflasi sebesar 0,21%, sedangkan inflasi secara tahun kalender 2018 mencapai 1,3% dan inflasi tahun ke tahun di level 3,23%.

Hasil ini diperoleh dari pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) di 82 kota seluruh Indonesia. Dari data BPS, 65 kota mengalami inflasi dan 17 kota tercatat mencetak deflasi.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengungkapkan angka inflasi bulanan 0,21% dan inflasi tahunan 3,23% merupakan angka terendah saat puasa dibandingkan Ramadan 2016 dan 2017.

“Ini kabar yang mengembirakan. Kita harapkan inflasi tetap terkendali pada target yang telah ditetapkan, 3,5% plus minus 1%,” paparnya, Senin (4/6/2018).

Adapun inflasi sebesar 0,21% pada Mei 2018 dipengaruhi oleh beberapa komoditas antara lain daging ayam ras, telur ayam, dan kenaikan tarif angkutan udara.

Tarif transportasi termasuk angkutan udara perlu menjadi perhatian ke depannya. Menurut Kecuk, komponen ini akan menjadi salah satu pemicu inflasi pada Juni 2018 melihat adanya kebutuhan mudik Lebaran.

“Jadi, Juni 2018 yang perlu diantisipasi adalah pesawat dan angkutan antar kota. Mudah-mudahan kenaikannya tidak terlalu tinggi jadi tidak memberatkan konsumen,” paparnya.

Inflasi transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada Mei 2018 mencapai 0,18% dengan andil 0,03%.

Adapun, faktor yang menahan laju inflasi salah satunya adalah penurunan harga beras pada Mei 2018. Penurunan harga beras ini memberikan andil deflasi sebesar 0,04%.

Selain beras, cabai rawit juga memberikan andil deflasi sebesar 0,03%.

Secara keseluruhan, Kecuk mengungkapkan inflasi Mei 2018 dipicu oleh inflasi inti sebesar 0,21% dengan andil cukup besar yakni 0,12%. Sementara itu, inflasi harga bergejolak tercatat sebsar 0,19% sepanjang Mei 2018 dan andilnya sebesar 0,03%.

BPS melaporkan inflasi harga yang diatur pemerintah pada Mei 2018 mencapai 0,27% dengan andil sebesar 0,06%.(jbbi)