www.korannasional.com–
Pasca penganiayaan aparat Polres Jakarta Pusat (Jakpus) saat aksi damai memeringati 20 tahun Reformasi di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, jajaran Polres Jakarta Pusat mendatangi Kantor HMI MPO Cabang Jakarta di Jalan Bunga nomor 21, Matraman Jakarta Timur, Ahad 27 Mei 2018.

Dalam kedatangannya Kapolres Jakarta Pusat Kombes Polisi Roma Hutajulu didampingi para Kasat dan jajarannya, termasuk Kasat Sabhara yang secara brutal memimpin penanganan aksi peringatan 20 tahun Reformasi oleh HMI MPO Cabang Jakarta, diterima dengan baik sebagai tamu di markas HMI untuk berbuka puasa bersama.

Tak hanya itu, bahkan para Kapolsek di wilayah Jakarta Pusat turut datang ke markas HMI.

Selain berbuka puasa bersama, Kapolres sempat menawarkan biaya pengobatan kepada dua kader HMI yang terluka cukup parah akibat brutalitas penanganan aksi, namun ditolak pengurus HMI Cabang Jakarta.

Tak hanya itu uang sebesar Rp 5 juta juga ditolak oleh HMI karena dapat mencederai gerakan mahasiswa dan menimbulkan fitnah di jajaran pengurus oleh para alumni HMI.

“Kami sangat apresiatif jajaran kepolisian datang ke markas HMI Cabang Jakarta di jalan Bunga dan menerima mereka dengan penuh hormat. Namun kami menolak segala bentuk bantuan baik pengobatan dan uang yang diberikan jajaran kepolisian kepada kami. Itu semua hanya akan menimbulkan fitnah bagi pengurus baik di internal kader maupun eksternal khususnya alumni HMI,” tutur Ketua HMI Cabang Jakarta Al Azhar Musa kepada wartawan, Ahad 27 Mei 2018.

Dalam pertemuan itu, Kapolres sedikit menyinggung brutalitas penanganan anggotanya kepada para kader HMI. Sementara jajaran pengurus HMI menyampaikan kekecewaan mereka karena mendapat penanganan buruk.

“Kami tetap menyayangkan anarkisme yang dilakukan aparat kepolisian dalam aksi peringatan 20 tahun Reformasi yang kami lakukan dengan damai,” tandas Azhar.

Azhar menambahkan bahwa HMI Cabang Jakarta akan tetap turun aksi meskipun korlap Maftuh kini masih sakit akibat tendangan aparat polisi ke dadanya menyisakan retak 3 rusuknya.

“Rekan kami yang juga kader HMI kini masih perlu perawatan intensif karena rusuknya retak akibat ditendang aparat. Makanya kami akan tetap turun aksi meskipun aparat bertindak anarkis terhadap kami dan melontarkan pernyataan bohong kepada media. Kami maknai ini semua sebagai ujian di bulan jihad bulan romadhon,” tandas Azhar.

Seminggu lalu, tepatnya 21 Mei 2018, sekelompok kecil mahasiswa yang tergabung di HMI MPO Cabang Jakarta melakukan aksi damai peringatan 20 tahun reformasi di depan istana merdeka Jakarta Pusat. Aksi itu direspon secara brutal oleh pengamanan dari Polres Jakarta Pusat.

Para aktivis itu ditendang dadanya ke kawat berduri, dicekik, dan dipukul bagian mukanya oleh aparat kepolisian. Akibatnya dua orang langsung dilarikan ke RSUD Tarakan tak jauh dari lokasi aksi. Hingga kini aktivis mahasiswa masih mengalami sakit akibat aksi brutal dan anarkis dari kepolisian. (Herry Setiawan)