www.korannasional.com-Kalangan ekonom menganggap target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang dipatok 5,4%- 5,8% dianggap sulit tercapai. Sebagian menganggap target tersebut tak realistis.

Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan kemungkinan realisasi pertumbuhan ekonomi masih di bawah proyeksi pemerintah. Meski demikian, peluang tumbuh tetap terbuka lebar dengan syarat pasca pemilihan umum arah kebijakan ekonomi pemerintah harus jelas.

“Mungkin pertumbuhannya bisa lebih tinggi, forecast pada 2019 masih di angka 5,5%,” kata Andry, Jumat (18/5/2018).

Berbeda dengan Andri, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan target pada kisaran 5,4%–5,8% dianggap terlalu ambisius atau overestimated. Pendapatnya ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan tahun ini yang hanya 5,1%.

Indikator lainnya, kata dia, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi cukup besar dalam produk domestik bruto (PDB) saat ini porsinya tumbuh stagnan di angka 4,95%. “Ini gejala stagnasi pertumbuhan ekonomi akan berjalan sampai tahun depan,” terangnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, jika pemerintah menargetkan tumbuh di atas 5,4% justru dikhawatirkan menimbulkan ketidakpercayaan pelaku pasar karena targetnya kurang kredibel. “Asumsi makro yang meleset jauh dari realisasi membuat defisit anggaran melebar, target pertumbuhan overestimated dan tidak realistis,” tegasnya.(jbbi)