www.korannasional.com-Berdasarkan Riset Media Survey Nasional—MEDIAN, Joko Widodo menduduki peringkat pertama sebagai calon presiden yang memiliki elektabilitas tertinggi. Namun, hasil tersebut kontras dengan tingkat peluang tergantinya Jokowi pada Pilpres 2019 yang lebih tinggi.  

Menurut survei yang dilakukan pada 24 Maret—6 April 2018 tersebut, Jokowi memperoleh suara tertinggi sebanyak 36,2%, sementara posisi kedua jatuh kepada Prabowo dengan perolehan angka 20,4%. Adapun, urutan ketiga dan seterusnya memiliki gap angka yang cukup jauh dari kedua calon tersebut.

Ada pun, Gatot Nurmantyo berada di urutan ketiga dengan angka elektabilitas 7%. Disusul Jusuf Kalla sebesar 4,3%, Anies Baswedan 2%, Muhaimin Iskandar 1,9%, Agus Harimurti Yudhoyono 1,8%, Anis Mata 1,7%, dan Hary Tanoeudibjo 1,6%, serta urutan kesepuluh ialah TGB Zainul Majdi sebesar 1,5%.

Kendati demikian, Direktur Riset Media Survey Nasional—MEDIAN Sudarto menuturkan bahwa kubu Jokowi memiliki rintangan yang cukup serius. Pasalnya, publik yang tidak memilihnya untuk menjadi presiden lagi mencapai 63,8% sehingga menunjukkan peluang yang besar bagi pemimpin alternatif.

Di samping itu juga, 46,37% responden mengatakan sebaiknya Jokowi diganti, sedikit lebih tinggi dibandingkan responden yang menginginkan Jokowi tetap menjadi orang nomor 1 di Indonesia, yakni sebesar 45,22%.

“Ini adalah suatu sinyal evaluasi yang serius dari kinerja Pak Jokowi. Misalnya, tingkat kesejahteraan yang tidak meningkat yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” kata Sudarto dalam diskusi polemik politik copras capres di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (21/4/2018).

Sudarto menjelaskan, Jokowi memiliki keberhasilan dalam membangun infrastruktur yang lebih baik, namun pembangunan tersebut tidak mampu mengobati kekecewaan masyarakat dalam hal ekonomi.

Kendati demikian, Sudarto mengatakan bahwa evaluasi tidak hanya perlu dilakukan oleh kubu petahana, tapi juga dari kubu oposisi.

“Evaluasi ini juga perlu bagi kubu oposisi. Ketika kami tanya ke masyarakat yang ingin mengganti presiden, jawaban mereka masih terserak di 26 nama tokoh,” lanjut Sudarto.

“Pesan dari riset kami jelas bahwa baik di kubu Jokowi maupun oposisi, masing—masing memiliki PR yang berat,” tambahnya.

“Dari kubu Pak Jokowi, muncul golongan masyarakat yang tidak sedikit sudah mulai memilih presiden selain dia, sementara dari kubu oposisi, belum mampu melahirkan pasangan yang dipilih oleh sebagian masyarakat yang tidak ingin Jokowi lagi,” tandasnya.(jbbi)