www.korannasional.com-Alunan musik gamelan tampaknya mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Austria.

Hal tersebut terbukti saat pertunjukan bertajuk ”Discovering Gamelan: An Indonesian Traditional Orchestra”, Selasa (10/4/2018) malam, masyarakat Austria yang hadir memberikan apresiasi terhadap keindahan musik gamelan.

Menurut siaran pers KBRI Wina, Jumat (13/4/2018), acara tersebut diselenggarakan oleh KBRI Wina bekerja sama dengan Universität fur Musik un Darstellende Kunst dalam rangka memperkenalkan musik Gamelan kepada kalangan akademisi Austria, khususnya para peminat ethnomusikologi.

“Gamelan merupakan sebuah instrumen musik tradisional yang luar biasa dan menarik banyak minat masyarakat Austria karena dinilai memiliki beberapa keterkaitan dengan musik klasik,” ujar Ketua Departement Etnomusikologi Universität fur Musik un Darstellende Kunst, Prof. Ursula Hemetek dalam pidatonya.

Meski telah bekerja sama beberapa kali dengan KBRI Wina dalam penyelenggaraan pertunjukan Gamelan, ia mengakui bahwa hingga saat ini jumlah riset ilmiah mengenai Gamelan belum memadai mengingat belum adanya program pengajaran khusus mengenai musik tradisional Indonesia tersebut di universitas tempatnya mengajar.

Oleh karena itu, pihaknya mengapresiasi inisiatif KBRI Wina untuk membuka program pengajaran Gamelan bagi mahasiswa Universität fur Musik un Darstellende Kunst.

“Pementasan gamelan Bali dan Jawa kali ini merupakan langkah awal KBRI Wina terkait pembukaan program pengajaran Gamelan di Universität fur Musik un Darstellende Kunst yang akan dimulai pada sekitar bulan Oktober 2018 mendatang dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Diharapkan konser tersebut a mampu menarik minat lebih besar di kalangan mahasiswa untuk mengikuti program dimaksud,” kata Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Wina, Dewi Kejora, dalam siaran pers, Jumat (13/4/2018).

Di sela-sela penampilan, para penonton juga diberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan teknik memainkan Gamelan Bali yang dibawakan oleh Dr. Marion Breiter, seorang ahli pedagogi sekaligus salah satu anggota grup Gamelan Bali Altenberg. Penjelasan serupa mengenai Gamelan Jawa juga diberikan oleh Clarantia Prameta, salah seorang mahasiswi Indonesia yang tengah belajar musik di Austria.

Apresiasi

Apresiasi penonton konser sangat baik. Hal ini tampak dari padatnya ruangan konser malam itu. Beberapa yang diwawancarai tidak hanya puas menyaksikan penampilan Grup Altenberg dan Ngesti Budoyo malam itu, namun juga langsung tertarik untuk mengunjungi Indonesia agar dapat melihat langsung ragam kebudayaan yang ada di masing-masing daerah.

Dalam percakapannya dengan Wakil Kepala Perwakilan RI, Rektor Universität fur Musik un Darstellende Kunst, Prof. Ulrike Sych, menyebutkan bahwa dia belum pernah ke Indonesia sebelumnya.

”Setelah melihat pertunjukan Gamelan malam ini, saya berencana untuk membawa keluarga saya mengunjungi negeri anda,” ungkapnya kepada Wakil Kepala Perwakilan RI di Wina, Witjaksono Adji.

Antuasisme serupa juga ditunjukan oleh Alois Ebner, seorang guru di sebuah sekolah di kota Wina.

“Ini merupakan konser Gamelan pertama yang saya tonton. Penyajian musik dan suara yang dihasilkan sangat unik,” ujarnyan saat dimintai pendapat mengenai pertunjukan.

Sementara itu, Adrian Hartwelt, seorang wiraswasta yang pernah menetap di Indonesia selama 10 tahun, menyebutkan bahwa ia sangat tertarik akan penjelasan mengenai perbedaan antara Gamelan Bali dan Gamelan Jawa.

“Saya sudah beberapa kali melihat pertunjukan Gamelan Bali dan Gamelan Jawa secara langsung, baik di Jogja maupun di Bali. Tapi baru kali ini saya melihat penampilan keduanya sekaligus dalam satu konser. Penjelasan mengenai masing-masing instrument sangat menarik. Kini saya tahu perbedaan gamelan Bali dan Jawa,” ungkapnya saat dimintakan pendapat di akhir pertunjukan.

Promosi seni budaya Indonesia di Austria merupakan salah satu program kegiatan rutin KBRI Wina guna meningkatkan citra positif Indonesia di kalangan publik Austria.(jbbi)