www.korannasional.com-Promosi kuliner Indonesia di luar negeri harus dapat dilakukan tanpa menghilangkan orisinalitas rasa. Selain itu, diplomasi kuliner Indonesia hendaknya dilakukan dengan pendekatan budaya.

Hal tersebut disampaikan oleh pakar kuliner William Wongs saat memberikan paparan mengenai diplomasi kuliner Indonesia kepada diplomat muda peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) Angkatan ke-60.

Dalam keterangan resminya, Sabtu (24/3/2018), Chef Wongso, panggilan William Wongso, menerangkan bahwa cita rasa makanan khas Indonesia dapat menjadi salah faktor pemantik wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia.

Oleh karena itu, dia berpandangan masakan khas seperti rendang dapat dijadikan sebagai ujung tombak diplomasi kuliner Indonesia karena kompleksitas variasi dan rasa.

“Diplomat harus memiliki sensibilitas dan pengetahuan akan adat dan kebudayaan di negara setempat,” katanya.

Kuliner Indonesia pada dasarnya dapat diberikan sentuhan modern yang disesuaikan dengan kebiasaan setempat.

Chef Wongso mencontohkan dirinya pernah mencoba mempromosikan rendang Sumatra Barat di Namibia menggunakan daging antelop jenis Kudu, Oryx, Eland, dan Wildebeest yang biasa disantap masyarakat setempat.

Chef Wongso juga menggambarkan betapa hebatnya kluwek Indonesia yang bisa menghasilkan rasa umami sehingga tetap menjaga cita rasa gurih rawon asal Jawa Timur, meski tidak dibuat dengan daging.

Penjelasan Chef Wongso tentang cara inovatif mempromosikan diplomasi kuliner Indonesia semakin mendorong rasa ingin tahu para peserta Sesdilu.

Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. “Khusus untuk kuliner khas Batak, masakan apa yang punya potensi untuk dipasarkan di luar negeri?,” kejar Judika yang kebetulan putra asli Tapanuli.

Terkait dengan strategi pemasaran diplomasi kuliner, Chef Wongso menegaskan Indonesia perlu belajar dari kesuksesan beberapa negara tetangga.

Kuliner Indonesia sudah sejak lama dibawa ke mancanegara oleh diaspora Indonesia, namun masih belum banyak dikenal.

Faktor penyebabnya antara lain kurang berperannya diaspora Indonesia, minimnya pasokan bumbu asli Indonesia, dan belum adanya kebijakan diplomasi kuliner yang komprehensif.

Di Asia, India dan Vietnam menjual paket wisata kuliner unik di mana para wisatawan asing dapat menjelajah beragam street food (jajanan kaki lima) dengan menggunakan motor. Namun sayangnya, paket wisata seperti ini nampaknya belum pernah digarap di Indonesia.

Terakhir, Chef Wongso merekomendasikan agar restoran Indonesia yang sudah ada di luar negeri dapat diberdayakan dengan menyuguhkan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sejak tahun 2013.

Pada akhirnya Chef Wongso mengharapkan dengan menyasar komunitas diaspora Indonesia, diplomat diharapkan untuk aktif dan piawai dalam mempromosikan kultur kuliner Indonesia di luar negeri.(jbbi)