www.korannasional.com-Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan dunia dengan beban biaya kesehatan tinggi. Padahal, penyakit ini dapat diantisipasi dengan melakukan upaya pencegahan, pengendalian serta tata laksana hipertensi dan diabetes melitus sesuai standar.

Data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kemenkes tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan beban biaya kesehatan untuk pelayanan penyakit katastropik. Biaya kesehatan penyakit katastropik mencapai Rp8,2 triliun pada 2014. Jumlah itu terus naik menjadi Rp13,1 triliun pada 2015, dan Rp13,3 triliun pada 2016.

Melalui keterangan resmi, Kamis (8/3/2018), Kementerian Kesehatan menyebutkan gagal ginjal merupakan penyakit katastropik nomor dua yang paling banyak menghabiskan biaya kesehatan setelah penyakit jantung.

Kemenkes mengklaim telah memiliki upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ginjal kronis dengan perilaku ”CERDIK”, yaitu :

  • Cek kesehatan secara berkala,
  • Enyahkan asap rokok,
  • Rajin olahraga,
  • Diet seimbang,
  • Istirahat cukup, dan
  • Kelola stres.

Selain itu, Kemenkes juga mendorong PATUH yaitu

  • Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
  • Atasi penyakit dengan pengobatan yang tetap dan teratur
  • Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
  • Upayakan beraktivitas fisik dengan aman, dan
  • Hindari Rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya

Adapun penyakit ginjal adalah kelainan yang mengenai organ ginjal. Penyakit ini timbul akibat berbagai faktor, misalnya infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif, dan lain-lain. Penyakit ginjal kronis biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun.

Data Global Burden of Disease tahun 2010 menunjukkan, penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010.

Lebih dari 2 juta penduduk di dunia mendapatkan perawatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal dan hanya sekitar 10% yang benar-benar mengalami perawatan tersebut.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gagal ginjal sebesar 0,2% atau 2 per 1000 penduduk dan prevalensi batu ginjal sebesar 0,6% atau 6 per 1.000 penduduk.

Prevalensi penyakit gagal ginjal tertinggi ada di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 0,5%.

Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi gagal ginjal pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan (0,2%).

Berdasarkan karakteristik umur prevalensi tertinggi pada kategori usia di atas 75 tahun (0,6%), mulai terjadi peningkatan pada usia 35 tahun ke atas.

Berdasarkan strata pendidikan, prevalensi gagal ginjal tertinggi pada masyarakat yang tidak sekolah (0,4%).

Berdasarkan pemukiman, masyarakat yang tinggal di pedesaan (0,3%) lebih tinggi prevalensinya dibandingkan di perkotaan (0,2%).(jbbi)