www. korannasional.com – Kota Depok, Jawa Barat, dengan jargon kota religius mulai ternoda. Bahkan patut dipertanyakan. Kelompok Lesbian, Gay Biseksual, dan Transgender (LGBT) mulai tumbuh subur. Bahkan, mereka terang-terangan mengklaim berada di bilangan kota Depok.

Hal ini tentu membuat masyarakat resah. Dikhawatirkan akan dapat merusak generasi muda. Menurut Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Qonita Lutfiah, masalah ini harus disikapi secara serius bersama-sama. Bukan hanya oleh pemerintah kota, tapi juga semua lapisan masyarakat.

“Semua berangkat dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal kita. Jangan sampai mereka tersesat dalam pergaulan. Untuk itu pentingnya pembekalan soal agama,” kata Qonita, Rabu 10 Januari 2018.

Menurutnya Qonita dalam Alqur’an sudah jelas bahwa manusia diciptakan saling berpasangan di muka bumi ini. Jika tidak menentang kodrat pencipta alam semesta ini. Jadi sudah semestinya manusia hidup berpasangan dengan lawan jenis bukan sejenis.

Dikatakannya keberadaan komunitas LGBT di Depok khususnya dengan memiliki sistem atau peraturan daerah yang sudah cukup baik sejatinya bisa menangkis keberadaan ruang gerak kaum LGBT.

“Karena itu pentingnya pendidikan dan pengarahan dari lingkungan yang kecil terlebih dahulu, yakni keluarga,” imbuhnya.

“Kami menilai sistem di Depok sudah bagus, ada Perda Ketahanan Keluarga, Kota Layak Anak, dan Kota Religius. Ini semua bisa mengatasi persoalan LGBT di Depok jika benar-benar dijalankan,” ungkap politikus PPP ini.

Qonita meminta bersama-sama tokoh masyarakat, alim ulama, dan unsur masyarakat lainnya untuk peka terhadap aktivitas para remaja sehingga tidak terjerumus dalam LGBT.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna geram dengan maraknya LGBT. Depok sebagai daerah penyanggah menurutnya korban urban bagi semua penduduk.

“Kita harus seleksi semua bentuk aktivitas yang masuk ke Depok dari masyarakat urban agar tidak terjadi penyimpangan dalam pergaulan,”ujar Pradi.

Menurut Pradi hal ini harus disikapi dengan serius dan dicari jalan keluarnya bersama-sama. “Semua bentuk kegiatan asusila di Kota Depok harus dibersihkan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Depok Sidik Mulyono menuturkan, ibarat dua sisi mata uang, maka teknologi bisa digunakan untuk hal yang positif maupun negatif.

“Dengan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat dan canggih saat ini, semua orang bisa berkomunikasi tanpa dibatasi oleh jarak, ruang, maupun waktu,” kata Sidik.* Suryansyah