www.korannasional.com-Setelah berjam-jam menunggu dalam barisan panjang di satu instalasi kesehatan di Uganda Tengah, Jackie Namasaba menyerah; tak ada dokter yang datang untuk memeriksa dia.

Seorang pasien lain yang bernama Prossy Akello, yang telah datang untuk berobat di Pusat Kesehatan Kira di Kota Kecil Kira, kota terbesar kedua dalam jumlah penduduk di negeri tersebut, menyampaikan kekecewaan setelah gagal menemui dokter.

Para dokter, yang memulai pemogokan pada Senin (6/11) lalu, telah menolak seruan pemerintah untuk mengakhiri pemogokan, sehingga membuat sistem perawatan kesehatan masyarakat di negara Afrika Timur tersebut lumpuh.

“Kami tak boleh menghentikan pemogokan kecuali pemerintah menangani keprihatinan dan keluhan kita. Kami memerlukan bayaran yang bagus dan kondisi kerja yang bersahabat,” kata Ekwaro Obuk, Presiden Perhimpunan Medis Uganda, baru-baru ini kepada Xinhua.

Pemerintah Uganda menyatakan pemogokan itu tidak sah sebab para doker tak pernah memberi pemberitahuan resmi 90 hari atau mengikuti prosedur layanan masyarakat dalam mengumumkan aksi industri.

“Semua pekerja medis yang terkecoh untuk mengikuti pemogokan harus melanjutkan kewajiban secepatnya,” kata Menteri Kesehatan Jane Ruth Aceng.

“Semua pekerja medis yang mematuhi instruksi ini tak boleh dijadikan sasaran tindakan disipliner dan mesti diberi perlindungan yang layak oleh pemerintah,” demikian peringatan Menkes.

Leila Mirembe, dokter di Rumah Sakit Rujukan Nasional Mulago –rumah sakit terbesar di negeri tersebut, dalam satu wawancara mengatakan kepada Xinhua para dokter hanya akan menangani kasus darurat sampai pemerintah menangani keprihatinan mereka.

Pemerintah mesti menaikkan gaji dan insentif tugas para prosfesional kesehatan, dan mengkaji rantai pasokan serta penanganan obat dan pasokan medis, kata para dokter.

Pemogokan itu telah menimbulkan perasaan yang bercampur-aduk di kalangan masyarakat.

Regina Kamoga, Ketua Aliansi Organisasi Pasien Uganda –organisasi nirlaba di negeri tersebut mengatakan, ” Meskipun kami percaya bahwa para doker kami layak mendapatkan ganjaran dan kesejahteraan yang lebih baik, kami –persaudaraan pasien di Uganda– sangat prihatin bahwa para dokter telah memilih tindakan industri daripada menyelematkan nyawa dan dialog dengan pemerintah.”

Para ahli mengatakan perikaian antara dokter rumah sakit umum dan pemerintah telah mendorong pasien yang berpenghasilan rendah untuk datang ke kelinik yang memiliki peralatan minim.(ant)