www.korannasional.com-Pakar keuangan dan perbankan syariah Indonesia Muhammad Syafii Antonio secara resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia pada acara wisuda ke XII di Kampus Andalusia Tazkia, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/11).

Jabatan Ketua STEI Tazkia beralih kepada pakar keuangan sakinah Dr Murniati Mukhlisin atas penunjukan Yayasan Tazkia Cendekia untuk menggantikan kepemimpinan Antonio.

Di hadapan 363 wisudawan dan tamu undangan Antonio berpesan kepada seluruh mahasiswa dan lulusan STEI Tazkia agar dapat menangkap peluang dengan inovasi dan ilmu pengetahuan.

“Kita harus memperjuangkan yang terbaik sehingga kita selalu berorientasi kepada kualitas, dan kalau dimungkinkan kesalahan kita nol,” kata Antonio.

Untuk mecapai hal itu lanjutnya harus didukung oleh pengetahuan dan kompeten. Selalu berinovasi, istiqomah dengan akhlakul karimah yang telah dimiliki.

“Karena pepatah mengatakan berinovasilah jikalau tidak, maka kita akan tergerus dengan zaman dan kita akan ditinggalkan orang,” katanya.

Ia mencontohkan banyak mall saat ini mulai sepi kehilangan pengunjung karena sudah beralih ke belanja daring (online-red) begitu juga taksi yang sudah kehilangan penumpang karena masyarakat sudah menggunakan daring.

Menurutnya, perlu kerja tim untuk bisa sukses. Kondisi saat ini umat Islam di belahan dunia sedang mengalami perubahan yang luas biasa seperti di Timur Tengah, negeri Syam masih bergejolak, lebih dari 35 juta orang meninggalkan tanah kelahirannya. Rohingnya terdiri atas 600 ribu orang hijrah dari tanah tumpah darahnya.

Begitu pula di Palestina walau sudah ada perkembangan baik dengan adanya perjanjian damai dua kubu yang bertikai. Tetapi, di negeri Yaman masih berdarah, begitu pula dengan Baghdad yang belum aman.

“Indonesia salah satu negeri paling aman dengan segala dinamikanya karena memiliki satu kekhususan yakni kekuatan sumber daya alam,” katanya.

Tapi lanjutnya saat ini masyarakat Indonesia baru bisa menjual secara eceran, dan hanya dijadikan pasar sebagai pembeli. Pemilik industri besar masih diisi orang lain, bukan oleh bangsa sendiri.

Bersamaan dengan itu ketahanan pangan, sandang dan papan masih belum menggembirakan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi semua sumber daya manusia Indonesia, khususnya generasi muda saat ini.

“Indonesia memiliki ekonomi yang besar potensinya tetapi bagaimana agar tidak jatuh ke orang lain,” kata pendiri STEI Tazkia ini.

Ia mengingatkan Indonesia memiliki bonus demografi yakni jumlah usia produktif lebih banyak dibanding usia tua, terjadi dari tahun 2010 sampai 2050. Setelah itu Indonesia akan memasuki generasi tua seperti Jepang dan Eropa.(ant)