www.korannasional.com-Stephen Paddock, pelaku penembakan sebuah konser di Las Vegas, Amerika Serikat, Minggu (1/10), merupakan anak dari Benjamin Hoskins Paddock, yang juga seorang kriminal sejak memasuki usia kepala tiga.
Benjamin Paddock awalnya diketahui berketerampilan sebagai ahli reparasi rupanya menyimpan kemampuan lain, yakni merampok bank.

Selama rentang 18 bulan medio 1959 dan 1960, dia sukses menjarah dua cabang Valley National Bank di Phoenix, mencoleng tak kurang dari 25.000 dolar AS, menurut sebuah artikel di The Arizona Republic pada Oktober 1960.

Pihak berwenang lantas menangkap Benjamin Paddock di Las Vegas. Atas kejahatannya, Paddock mendapatkan hukuman 20 tahun penjara pada 1961. Saat itu, sang putra, Stephen Paddock baru berusia 8 tahun.

Kabur dan ganti penampilan

Paddock hanya menjalani kurang dari separuh masa hukumannya di Texas. Pada 1968, dia melarikan diri dari penjara La Tuna dan kabur ke San Francisco, dan kembali merampok di sana sekitar Juni 1968. Paddock lantas kabur ke kawasan ke pantai dan menetap di Oregon.

Di sana, dia mengubah penampilannya dengan mencukur habis rambutnya dan menumbuhkan jenggot lalu mengganti namanya menjadi Bruce Werner Ericksen.

Pada tahun 1969, F.B.I. mengumumkan bahwa Paddock masuk dalam daftar buronan sembari menyebarkan poster berisi foto Paddock lengkap dengan diagnosis bahwa dia seorang psikopat.

“Dia dilaporkan memiliki kecenderungan bunuh diri dan harus dianggap angat berbahaya,” demikian tulisan dalam poster itu.

Di Oregon, Paddock diketahui kerap bermain poker bersama rekan-rekannya di Eugene dan membuka rumah judi Bingo di kawasan Springfield pada akhir 1970-an.

“Tidak ada yang tahu siapa dia sebelumnya,” kata Frederick van Deinse II, yang meminjami uang Paddock, dalam sebuah wawancara.

Dia mengatakan bahwa Paddock tidak pernah berbicara tentang masa lalunya – bukan tentang keluarganya, soal bagaimana dia datang ke Oregon atau hidupnya sebagai perampok bank.

Van Deinse baru tahu kisah kelam Paddock pada 6 September 1978, saat dirinya memainkan permainan bingo di ruang tamu. Saat itu, sekelompok pria memasuki aula dan meminta Paddock keluar ruangan.

Ternyata itu adalah tipu muslihat. Ketika Paddock keluar, agen federal menangkapnya.

Menurut Van Deinse, Paddock berkorespondensi dengan rekan-rekannya dari balik penjara. Sayang, dia tak lama menjalani hukuman, hanya satu tahun sebelum akhirnya bebas, menurut sebuah artikel di The Eugene Register-Guard.

Paddock kembali ke Eugene, dan meneruskan usaha bingo. Pejabat setempat bahkan menyambut kehadirannya karena sifat murah hati Paddock.

“Dia sering melakukan banyak hal untuk anak-anak,” kata seorang walikota menurut surat kabar tersebut.

Namun, dia mengalami masalah lagi. Otoritas negara menuduhnya melakukan pemerasan pada tahun 1980-an.

Paddock menyelesaikan tuntutan sipil dan menghindari penjara setelah membayar 623.000 dolar AS, dan memilih meninggalkan Oregon ke Texas. Dia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Texas pada 1998.

Putra Paddock, Eric Paddock, mengatakan pada Senin (2/10) lalu bahwa ayahnya sebagian besar tidak hadir dalam kehidupannya. Eric mengatakan, saat ia lahir ayahnya berada dalam pelarian dan ibunya harus membesarkan dia dan saudaranya seorang diri.

Satu hal yang miris adalah tak ada nama Eric maupun Stephen di berita kematian sang ayah. Hanya ada Patrick Paddock di sana. Demikian seperti dilansir laman New York Times.(ant)