>

www.korannasional.com-Majalah remaja pria Hai, yang menerbitkan edisi cetak pamungkas pada 1 Juni, rupanya sudah sejak lama berencana untuk mengakhiri siaran versi cetak.

“Setiap tahun dari 2000 kami mikir begitu. ‘Kita besok digital ya’, begitu terus,” kata Acting Editor in Chief Hai, Didi Kaspi Kasim.

“Tapi, mungkin, apa ya, Hai Day kemarin jadi tonggak kami, ya sudah harus bulat keputusannya,” Didi menambahkan, merujuk pada ajang Hai Day 2017 di Parkir Timur, Senayan, 29-30 April 2017.

Penghentian edisi cetak hanya berselang sekira tujuh bulan dari langkah mereka mengubah terbitan edisi cetak mingguan menjadi bulanan pada medio Oktober 2016.
Didi mengatakan, rentang waktu tujuh bulan tersebut hanyalah bagian dari strategi untuk mempercepat transisi dari penyediaan versi cetak dan daring menjadi hanya daring semata.

“Itu sebetulnya sebuah timeline yang kami percepat saja. Kita semua tahu bahwa ini penurunannya tidak bisa dilawan,” kata Didi, yang sempat berkiprah di Hai tahun 2000an.

“Bahwa audiensnya itu menuntut informasi yang bukan di-print itu, jadi buat apa kami masih berkutat di produk yang print dan high cost, kemudian itu enggak ramah lingkungan juga,” kata Didi.

Didi menilai Hai media cetak yang sudah kurang berdampak bagi ceruk pembacanya menjadi dasar lain untuk memutuskan hijrah sepenuhnya menjadi media daring.

“Untuk ceruk audiens Hai mungkin iya. Tapi bicaranya beda dengan audiens Intisari, Kompas, National Geographic, itu audiensnya beda,” ujar Didi merujuk pada media cetak lain di bawah naungan Kompas Gramedia, grup induk Hai.

Maka sejak 1 Juni 2017, Hai yang menerbitkan edisi cetak terakhir dengan menyematkan pernyataan tegas We Need More Space di sampulnya sembari sedikit banyak menjelaskan alasan keputusan tersebut di dalamnya.

Selepas edisi cetak pamungkas tersebut, Hai yang kini digawangi tim transisi menuju penguatan versi daring untuk sepenuhnya menjangkau pembaca mereka, remaja pria, lewat laman hai.grid.co.id.(ant)

LEAVE A REPLY