www.korannasional.com-Sedikitnya empat warga Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, tewas setelah dibacok kawanan pencuri sapi yang marak terjadi sejak awal Juni 2017.

“Kasus pencurian sapi sangat meresahkan warga Kabupaten Kupang karena semakin meningkat di daerah ini. Sudah empat warga yang meninggal akibat dibacok gerombolan pencuri sapi,” kata Bupati Kupang Ayub Titu Eki di Oelamasi, Kamis (8/6).

Ia mengatakan aksi pencurian sapi sekarang sudah mulai merambah ke wilayah pedalaman Kabupaten Kupang, sehingga membuat masyarakat bertambah resah.

Titu Eki yang didampingi Kabag Humas Setda Kabupaten Kupang Stefanus Baha itu menjelaskan, kasus pencurian sapi marak terjadi di Kecamatan Fatuleu Barat, Amfoang Utara, Kupang Barat dan Amabi Oefeto serta wilayah Amarasi.

Selain menyebabkan empat korban meninggal, aksi pencurian itu menyebabkan puluhan ekor sapi milik warga digasak kawanan pencuri ke luar Kabupaten Kupang.

Ia mengatakan, para pelaku tidak segan melakukan kekerasan fisik terhadap warga apabila memergoki aksi pencurian sapi yang dilakukan pelaku yang masuk ke desa-desa menggunakan mobil pick up untuk mengangkut hasil jarahannya.

“Salah satu peternak sempat diikat dibatang pohon di kawasan hutan oleh pencuri. Korban dilepas setelah pelaku menggasak beberapa ekor sapi milik korban,” kata Titu Eki.

Titu Eki mengatakan, kawanan pencuri sapi menguliti sapi curiannya di kawasan hutan yang jauh dari pemukiman warga lalu meninggalkan kulit dan kepala di lokasi pemotongan hewan curian.

“Para pelaku sering meninggalkan kulit dan kepala sapi di hutan, sedangkan daging sapi diangkut menggunakan mobil yang telah disiapkan pelaku,” tegas Titu Eki.

Titu Eki menduga ada jaringan yang melibatkan warga setempat yang berperan memberikan berbagai informasi kepada para pelaku.

“Kemungkinan sudah ada jaringan di desa itu karena tidak mungkin pelaku mengetahui lokasi ternak sapi milik warga berada,” ujarnya.

Orang nomor satu di kabupaten penghasil ternak terbesar di Provinsi NTT ini mengatakan, warga Kabupaten Kupang agar tidak mengandalkan aparat Kepolisian dalam mengatasi kasus pencurian ternak, karena personel kepolisian sangat terbatas.

Ia mengharapkan warga mulai menggiatkan kembali siskamling (sistem keamanan lingkungan) dengan melakukan ronda malam secara bergilir sehingga mampu meredam aksi pencurian sapi di daerah ini.

Ia mengatakan, melalui siskamling akan meningkatkan kepekaan masyarakat dan daya tanggap setiap warga masyarakat dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban lingkungan masing-masing.

“Warga tidak perlu panik dengan maraknya kasus pencurian sapi. Masyarakat harus mengintensifkan ronda pada siang maupun malam hari untuk memudahkan identifikasi terhadap pelaku pencurian,” kata Titu Eki.

Selain mengaktifkan ronda, kata Titu Eki, perlu juga menggelar ritual adat mengutuk para pelaku pencurian sapi milik warga.(ant)