www.korannasional.com-Bernardus Prasodjo (69) siang itu mengenakan kaus merah berkerah. Sembari duduk di depan sebuah meja. Dia adalah sosok pelukis kaleng biskuit Khong Ghuan yang selama ini dikenal  menjadi ciri khas Hari Raya Lebaran di Indonesia.

Saat ditemui Antara, pria berkaca mata itu sedang memainkan smartphone-nya, memutar musik instrumental.

Di seberang meja dari tempat duduknya tampak beberapa lukisan karyanya terpampang rapi. Sambil berbicara pada ANTARA News, Bernardrus sesekali memandangi lukisan-lukisan itu.

Apa kesibukan saat ini? Apakah masih aktif di dunia melukis?

Sudah lima tahun tidak (menggambar). Saya fokusnya bukan mengobati tetapi mengajar, menyebarkan ajaran penyembuhan prana ke seluruh Indonesia. Penyembuhan tanpa obat, tanpa menyentuh. Tidak tergantung pada ajaran agama tertentu, mistik, ritual tertentu. Lebih bersifat ilmiah.

Kangen kembali ke dunia melukis?

Sebetulnya kangen juga. Hanya sekarang ini, cat nya sudah pada kering. Jadi, kalaupun mau memulai harus membeli semuanya yang baru. Ada juga (keinginan kembali ke dunia menggambar) tetapi waktunya, sekarang ini.

Sejak kapan menggeluti dunia melukis?

Dari Taman Kanak-kanak sudah menggambar. Sampai orangtua marah-marah, “baru dibeliin buku gambar, sudah penuh”. Apa saja yang mau digambar, digambar. Seperti kalau sekarang pemandangan bisa pakai kamera. Kalau dulu, mau  pemandangan itu kami lukis.

Saya lebih senang yang langsung. Kepuasannya beda. Walaupun sekarang saya masih suka membuat iklan-iklan sendiri untuk kegiatan kami. Menggunakan Photoshop lebih gampang.

Dari kuliah enggak sengaja. Karena mendaftarnya di ITB, mesti ada dua pilihan. Pilihan pertama, saya arsitek. Pilihan kedua, seni lukis. Yang diterima di seni lukis, jadi ya sudah dijalani.

Objek gambar apa yang paling disukai?

(kebanyakan karya), yang indah-indah. Kayak kuda, streamline, kemudian, angsa.

Orangtua pelukis?

Orangtua saya pelukis. Mertua saya juga pelukis.

Karya yang pertama kali dikenal orang lain?

Sebetulnya banyak sekali. Saya dulu senang sekali, melukis bintang-bintang film. Zaman dulu kan bintang film barat. Yang pertama itu justru laki-laki, Paul McKenzie. Saya senang lagu-lagunya. Saya gambar begitu saja, diminta orang saya kasih. Bikin lagi.

Bagaimana hingga akhirnya bisa bergelut secara profesional di dunia melukis?

Kan sambil kuliah, waktu itu kos-nya di jalan Lengkong Kecil Bandung. Sebelahnya itu percetakan tempat redaksi majalah Aktuil. Majalah musik yang sangat terkenal di Bandung. Kami suka main ke situ, bantu-bantu buat ilustrasi. Keterusan. Lama-lama kuliahnya ketinggalan.

Kemudian ada orang pesan untuk buat komik. Ya sudah semakin fokus di situ. Jadi kuliahnya ketinggalan. Diomelin orangtua juga.

Komik itu mula-mula di Aktuil, lalu berseri. (soal remaja). Ceritanya sudah ada, dikasih deadline terus kita gambar. Enggak seluruhnya jadi, minggu ini harus setor ini, minggu depan setor yang lain.

Dulu gambar pakai pena (1968). Kalau sekarang pakai Boxy. Saya lebih suka pakai pena karena kita bisa menarik garis itu kalau mau tebal ditekan.  Kalau mau tipis agak dilebarkan. Sekarang pakai Boxy kan tebalnya sama semua, jadi kaku.

Konsisten dengan pena. Banyak perusahaan yang produknya perlu digambar, lama-lama kami pakai cat air. Dulu, saya ke supermarket, itu bangga sekali. Hampir semua etiket-etiket yang laku itu, saya yang bikin. Tetapi, makin ke sini, makin sedikit.

Sekarang yang masih ada tinggal Khong Ghuan, Monde  sama Nissin wafer. Karena pemiliknya sama. Buat apa apa diganti-ganti (gambarnya), itu saja sudah laku.