www.korannasional.com – Masalah di SMAN 13 Depok dengan guru honorer Andika Ramadan Febriansah ternyata belum selesai. Malah ngejelimet seperti benang kusut. Andika merasa dipecat sebagai pengajar mata pelajaran sejarah di sekolah tersebut. Tapi, kepala sekolah Mamad Mahpudin keukeh menyatakan itu bukan pemecatan, tapi pemindahan.

“Tidak ada pemecatan. Andika dipindahkan ke bagian perpustakaan karena yang bersakungtan belum lulus sebagai sarjana,” kata Mamad saat dihubungi.

Menurutnya pemindahan seorang guru itu biasa. Hal itu dilakukan berdasarkan aturan UU Nomor 14 Tahun 2005, yang salah satu isinya menuntut guru harus memenuhi kualifikasi akademik yaitu memiliki ijazah Strata 1 atau Diploma IV dan bersertifikat pendidik paling lama sepuluh (10) tahun sejak diundangkan pada 30 Desember 2005. Sehingga mulai 1 Januari 2016, semua guru di Indonesia harus memeiliki pendidikan S1 atau Diploma IV dan sudah bersertifikat pendidik.

Tapi, menurut Andika persoalan tidak selesai sampai disitu. Andika merasa berita yang berkembang di media simpang siur dan perlu diklarifikasi. “Saat melamar ke SMAN 13 Depok saya bilang pada kepala sekolah bahwa saya belum sarjana dan sedang menyusun skripsi. Pihak sekolah tak mempersoalkan itu dan menerima saya. Bahkan saya dipercaya menjadi wali kelas di kelas 10,” kata Andika yang mengajar Juni 2016.

Selama 6 bulan mengajar, Andika mengaku mempunyai banyak ruang dengan muridnya dan orang tua siswa. Dari sana ia melihat banyak kenjanggalan dan keluhan dari ortua tua siswa. Dia mencontohkan soal pungutan berbagai foto copy yang dilakukan oleh oknum guru.

“Saya komunikasi dengan guru senior tapi jawabannya kurang memuaskan. Mereka bilang, ini bukan kapasitas kamu tanyakan soal anggaran,” cerita Andika kepada wartawan di PWI Depok, Rabu (1/2).

Andika memang tak tinggal diam dengan jawaban tersebut. Dia pun menyalurkan hobinya menulis dengan berceloteh soal sekolah di dunia maya. “Pendidikan Kita Hancur,” begitu judul tulisan Andika pada 2 Desember 2016. Dalam tulsian tersebut Andika mengkritik soal gedung sekolah yang seperti kandang ayam, adanya pungutan-pungutan yang memberatkan orang tua dan masukan soal pendidikan secara luas.

Kontan tulisan yang mengkritisi itu membuat pihak sekolah kebakaran jenggot. Andika kemudian dipanggil kepala sekolah. Dia diminta untuk mengklarifikasi tulisannya.

Tapi, sebulan kemudian tulisan itu berujung pada pemindahan dirinya ke bidang perpusatakaan. Andika mengaku merasa kaget dan mempermasalahkan alasan pemindahan dirinya. Pada 9 Januari 2017 Andika pun menghadap kepala sekolah. Dijelaskan bahwa pemindahan dirinya dikarenakan dia belum lulus sarjana.

Alasan tersebut ta diterima Andika karena tidak ada SK pemindahan ke perpustakaan dirinya dari pihak sekolah. “Kalau di perspustakaan malah menghambat kelulusan sarjana saya, karena waktu saya akan habis di dalam,” tuturnya yang saat ini masih belum jelas statusnya sebagai pengajar.

Andika kemudian negosiasi dan pihak sekolah membolehkan Andika kembali mengajar dengan persyaratan:
1. Jam mengajar dikurangi
2. Tidak lagi menulis di sosmed
3. Bersedia mengundurkan diri jika Desember 2017 belum lulus sarjana
4. Bersedia membubarkan studi merdeka yang didirikannya bersama siswa sekolah.

“Saya keberatan dengan syarat nomor 2 dan 4, karena itu sama juga mematikan kreativitas anak bangsa. Saya juga minta garansi anak-anak (siswa) yang selama 6 bulan saya didik tidak dalam tekanan pihak sekolah,” tandas Andika.*Suryansyah