www.korannasional.com–Wartawan senior yang juga sebagai Ketua Pembina Forum Wartawan (FW), Rusdy Nurdiansyah menyatakan pernyataan sikap dan keprihatinan aksi demo damai penistaan agama Islam yang menuntut Ahok di proses hukum pada Jumat 4 Nopember 2016, dengan ‘mengancam’ lewat spanduk terhadap Kompas dan Metro TV dengan tudingan sebagai media bayaran serta melakukan pengusiran rekan-rekan wartawan Metro TV yang sedang melakukan liputan.

“Ini telah mencederai dan sebagai upaya membungkam kebebasan pers. Tentu, kami sangat menyayangkan perbuatan para oknum pendemo tersebut,” ujar Rusdy.

Menurut Rusdy, tudingan dan pengusiran itu tak mendasar karena perbedaan dari hasil liputan dari sudut pandang pro dan kontra pasti berbeda masing-masing media. Setiap media dimana pun juga punya kepentingan, tapi tetap dalam koridor penyajian yang berimbang berdasarkan kode etik jurnalistik dan menjunjung kebebasan pers yang bertanggungjawab, dan itu sudah diatur dalam UU Pokok Pers.

“Nah, mestinya bagi siapapun yang merasa keberatan dari hasil liputan para awak media karena dianggap berpihak dan merasa dirugikan, ada saluran yang telah diatur dalam UU Pokok Pers. Silahkan minta hak jawab dan samua media wajib memberikan ruang untuk hak jawab. Kalau tak puas silahkan lapor ke Dewan Pers,” papar wartawan yang juga sebagai Ketua Pembina Depok Media Center (DMC).

Diutarakan dia, semua media diseluruh dunia pasti punya kepentingan dan punya garis kebijakan redaksi masing-masing. “Pro dan kontra dan perbedaan dari berita masing-masing media itulah bagian dari sebuah demokrasi. Jaganlah kita membelenggu pers karena kita tak sependapat dan jangan memaksakan pers untuk sependapat dengan kita,” tutur Rusdy yang telah malang melintang sebagai wartawan selama 20 tahun ini.

Pada jaman Orde Lama (Orla) dan jaman Orde Baru (Orba), pers terbelenggu, kalau tak sependapat dengan rejim pemerintah yang berkuasa maka media tersebut segera diberangus dan wartawannya ditangkap dan dipenjarakan. Rosihan Anwar dan Moectar Lubis, sebagian contoh wartawan-wartawan senior kala itu yang dipaksa merasakan dinginnya ruangan penjara tanpa proses hukum.

“Jadi apa kita ingin kembali ke demokrasi yang tak sehat pada jaman Orla dan Orba?. Silahkan demo, jangan menyalahkan media yang pro maupun kontra, sependapat dan tak sependapat, biarkanlah masyarakat yang menilai, bukan ‘dipaksa’ dengan cara-cara kekerasan. Saya berharap, pihak yang bertanggungjawab dalam aksi demo tersebut dengan gentle meminta maaf, khususnya ke Metro TV,” tegas Rusdy.

Aksi demo damai yang cukup sukses tersebut telah ternodai oleh oknum demonstran yang bepikiran sempit dengan keberadaan pers dalam sebuah negara yang menjunjung demokrasi.

Beberapa rekan wartawan senior menyesakkan dan juga mengecam kejadian tersebut. Seorang wartawan senior, Amir berkomentar: Plus minusnya media harus kita hormati, karena tanpa media, kita akan mati informasi dan juga mati berkreativitas, karena kita tidak memiliki penyemangat.Sejak jaman baheula, sebutan media kan Dewa Janus yang berwajah dua, saat ini wajahnya bagus, besoknya jelek. Saat ini wajahnya negatif, besoknya positif. Jadi itu hal yang biasa dalam kinerja dunia pers, tak perlulah dihalang-halangi. Suka dan tidak suka, sudah tak rasional para oknum pendemo mengusir wartawan.

Wartawan senior lainnya, Joko Warignyo yang ada di lokasi saat para wartawan Metro TV beserta kru dan mobil Van diusir para oknum pendemo juga menyesalkan kejadian itu terjadi.

“Hati saya dag dig dug ketika melihat meraka di usir, karena saya ada ditengah-tengah ribuan masa yang marah sama Metro TV. Apalagi ada suara teriakan dari masa pendemo, “Usir Media Bayaran”. Saya sangat menyayangkan kenapa Metro TV di usir, padahal tak ada kaitannya saat tugas meliput demo tersebut. Jelas itu melanggar UUD Pokok Pers ” tutur Joko. (Mas Tete/Ayoe)