www.korannasional.com–
Namanya Pahala Saragi Napitu. Awalnya adalah pengusaha atau pemborong dan biasa mencari dan mendapatkan pekerjaan proyek di Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Dirinya adalah Direktur Utama CV. Putra Parna, lantas juga menjadi ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Konstruksi Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gabpeksi) Kota Depok.

Tapi tiba-tiba, belum genap 2 (dua) bulan lalu, Pahala bersama Direktur CV. Astrid, Welsen Nainggolan, mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan nama Pemeehati Pembangunan yang berkedudukan di Kota Depok, dan dirinya langsung yang menjadi Ketua Umum dan Welsen Nainggolan sebagai Sekretaris.

LSM yang didirikan pun langsung ‘action’, menyikapi keberadaan Workshop atau Pabrikan Saluran Beton Precast(U-Ditch) yang ada di Kecamatan Cimanggis, Depok yang ditengarai olehnya menyalahi Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok terkait Izin Operasional Workshop/Pabrikan tersebut.

Selidik punya selidik, mengapa Pengusaha/Pemborong ini sampai “tergopoh-gopoh” mendirikan LSM dan aksi pertamanya adalah “menembak” Workshop/Pabrikan Saluran Beton Precast di Kecamatan Cimanggis ini, diduga sangat bernuansa Persaingan bisnis atau usaha, mengingat Pahala adalah Marketing lepas salah satu Perusahaan penyedia Saluran Beton Precast (U-Ditch) yakni PT. JKS untuk wilayah kota Depok.

“Kemungkinan dirinya merasa usahanya terganggu dengan keberadaan workshop/pabrikan Saluran Beton Precast PT. Toba Duta Persada di wilayah Cimanggis, jadi sampai maksain membentuk LSM untuk menyerang pabrik itu. Gak sekalian bikin media dan jadi wartawannya aja trus nulis sendiri beritanya!” sindir Feri Abul yang diamini Priyadi Barmas.

“Saran aja ini sih! Semoga nggak ada lagi kedepannya di Kota Depok yang seperti ini. Nggak ada yang salah sih, cuma ya nggak enak aja dilihatnya. Pengusaha ya jadi pengusaha yang baik, nggak usah merangkap bikin LSM begitu, apalagi dibentuk hanya untuk “melancarkan” target utamanya sebagai Pengusaha/Pemborong,” ujar Cahyo dalam yang ditulis dalam akun facebook nya.

Cahyo yang juga salah satu tokoh LSM di Kota Depok ini pun geram dan menyatakan: kerjasama dan berbagi peran lah….apa sih yang dicari sampai semuanya digarap sendirian begitu? Kalau memang sudah Rezekinya, toh gak bakal kemana, iya kan??. HORAS…. ;).

“Modusnya sebenarnya sudah basi, lagunya sudah ngga laku dipasaran. Info yang kami peroleh, diduga keduanya kerap memaksa meminta-minta jatah proyek, dengan ‘segudang ancaman’. Jika tak diberi proyek dengan label LSM melaporkan para pejabat dan para kontraktor yang mendapatkan proyek ke pihak kepolisian dan kejaksaan,” ujar Cahyo, tokoh LSM Kota Depok yang cukup geram dengan ulah keduanya saat ditemui, Selasa (1/11/2016).

Saat dikonfirmasi, Pahala membantah semua tudingan tersebut yang dialamatkan kepadanya. “Tidak ada aturannya, pengusaha buat LSM atau sebaliknya. Saya sebagai pengusaha wajar berusaha mendapatkan proyek dan saya sebagai LSM membantu mengawasi pelaksanaan proyek-proyek pemerintah agar dijalankan sesuai aturan serta berkewajiban melaporkan segala penyimpangan yang merugikan masyarakat dan pemerintah,” jelas Pahala.

Diutarakan Pahala, terkait PT Toba Duta Persada yang memproduksi saluran beton precast (U-Ditch) itu menyalahi perijinan dan peruntukan berdasarkan Perda Tata Ruang Kota Depok. “Mereka sudah memproduksi, padahal baru mengantongi Ijin Peruntukan Ruang (IPR). Mereka juga tak memiliki ijin menggunakan jalan masuk milik pengelola Kuburan Cina, Yayasan Pendurenan Depok Bhakti. Kami sudah melaporkan ke Dinas Tarkim untuk ditindak,” ungkapnya.

Direktur utama PT Toba Duta Persada, Elmanto Tambunan membantah tuduhan Pahala kalau workshop U-Ditch yang berada di lahan seluas 4.800 m2 yang berada di RT 01, RW 01, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok. “Usaha saya ini memiliki ijin lingkungan dari warga sekitar, RT, RW, Lurah dan Camat. Proses perijinannya sudah mengantongi IPR dan ijin lainnya sedang proses,” terangnya sambil menunjukkan bukti-bukti ijin yang dimilikinya kesejumlah wartawan yang mendatangi lokasi workshopnya.

Salah satu warga RT 01 RW 01, Cisalak Pasar, bernama Nisan yang didatangi sejumlah wartawan menceritakan kalau lahan yang dijadikan workshop tersebut sebelumnya merupakan rawa-rawa yang ditumbuhi alang-alang yang tak produktif. “Kami warga senang karena ada 10 warga yang bekerja disini. Kami tak masalah dan tak merasa terganggu kok,” ucapnya.

Tokoh Anti Korupsi dari LSM Kapok Kota Depok, Kasno mengomentari bahwa dengan keberadaan workshop U-Ditch di Kota Depok akan mempermudah kerja dari para kontraktor, tentu juga akan memangkas biaya. “Hal lain akan berdampak positif bagi penyerapan tenaga kerja dan tentunya akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak. Jadi harus kita dukung segala macam bentuk usaha yang dapat menumbuh kembangkan potensi ekonomi di Kota Depok,” papar Kasno. (Papi Ipul/Aris)