www.korannasional.com- Lupa meletakkan barang, tersesat ketika keluar rumah tanpa ditemani, hingga emosi yang naik-turun, menjadi gejala demensia yang sering dialami mereka yang sudah lanjut usia (lansia).

Pikun, menjadi sebutan untuk orang tua yang sering mengalami hal-hal tersebut. Kondisi seperti itu sejak lama dianggap menjadi hal yang lumrah jika dialami oleh orang lanjut usia. Beberapa orang pun menyebutnya sebagai ‘penyakit tua’.

Kini, Kota Depok dalam persiapan menjadi ‘Kota Ramah Lansia’. Kota yang berusia 17 tahun ini tercatat memiliki 7 persen lansia dari total jumlah penduduk yang mencapai 2,2 juta jiwa. Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, mengajak masyarakatnya peduli terhadap para lansia.

“Lanjut usia bukan beban tapi aset negeri ini, semua dinas terkait bekerjasama mewujudkan Depok Kota Ramah Lansia,” ujar Drs. H.Yuyun Wirasaputra, MM, mantan wakil Wali Kota Depok.

Yuyun mengatakan ada kewajiban dari masyarakat dan pemerintah kota untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Pemkot, kata Yuyun misalnya, mempersiapkan sarana dan prasana. Diharapkan Pemda dalam membangun trotoar setidaknya harus landai, nyaman, dan senyuk.

Dia juga menyebut Pemkot Depok menyediakan fasilitas penyeberangan khusus difabel, ibu hamil, dan lansia. Tidak sedikit warga di luar difabel, ibu hamil, dan lansia menggunakan fasilitas tersebut.

Fasilitas itu sebenarnya sudah diresmikan oleh Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail pada 2015. Pembangunannya persis di depan kantor Balaikota Depok. Ketiga kalangan masyarakat tersebut bisa memanfaatkannya hingga tidak perlu menaiki tangga penyeberangan.

“Saya benar-benar terbantu dengan adanya tempat penyeberangan khusus lansia, tapi tombolnya tidak berfungsi,” kata Suparman, 65, warga Citayam yang ditemui korannasional.com.

Sayangnya, tombol untuk sinyal penyeberangan tidak berfungsi. Ketika dipencet dan lampu berganti merah, pengendara mobil dan motor tidak juga menghentikan laju kendaraannya. Dia dan para penyeberang jalan lainnya pun mengalami kesulitan hingga petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang tengah bertugas ikut turun tangan.

“Ini bukti kepekaan terhadap warga masih sangat rendah. Di sinilah tugas kami melakukan sosialisasi kepada semua kalangan masyarakat,” kata Yuyun.

Keluarga lansia yang masih muda dan sehat kata Yuyun, juga sangat diharapkan untuk lebih memperhatikan kehidupan keluarga mereka dan memahami hambatan-hambatan yang dialami karena kondisi penuaan.

Disamping merawat lansia dan memperhatikan kebutuhan fisiknya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mensejahterakan para lansia adalah memberi dorongan dan kesempatan untuk dapat bersosialisasi dan meningkatkan religiusitasnya.

“Usia tua sudah pasti terjadi pada tiap manusia. Tapi, jangan sampai ada pengurangan daya tahan fisik, daya ingat, tulang-tulang keropos,” imbuhnya.

“Melatih otak dengan mengisi teka-teki silang (tts) jadi salah satu cara untuk mengurangi penderitaan lansia. Jangan banyak melamun, lebih baik olahraga, jalan kaki atau sering berkunjung, berteman, mengobrol. Jangan ingat masa muda,” papar pria kelahiran 1945 itu.

Menurut Yuyun, ia dan dosen-dosen di Universitas Indonesia dalam sepekan selalu menggelar senam otak, senam ketawa. Maksudnya untuk melatih gerakan-gerakan otot. Dia bersama dosen UI seperti ahli tulang, gigi dan lainya juga memberi pemahaman kepada para lansia dan masyarakat.

“Kepedulian terhadap tetangga di sekitar mereka juga mutlak dibutuhkan. Kita hidup bersosialisasi. Jadi harus saling membantu satu sama lain.”

Hanya saja, kata Yuyun, sulitnya Pemkot Depok belum bergerak 100 persen. “Kami sudah sering rapat dengan wakil wali kota di Bapelda, tapi belum juga menemukan formula.” Suryansyah