>

www.korannasional.com – Menkopolhukam Wiranto ikut bicara soal Kongres PSSI. Ketua partai Hanura itu memiliki kriteria tentang sosok ideal yang bakal menduduki kursi Ketua Umum PSSI.

Wiranto berharap PSSI dipimpin oleh figur yang miliki totalitas untuk sepak bola Indonesia. Waktu dan tenaganya benar-benar difokuskan untuk olahraga yang merakyat itu. Pun mampu memperbaiki kebobrokan yang selama ini membelenggu PSSI.

“PSSI itu adalah organisasi yang lebih tua dari negara ini. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin yang tidak nyambi. Artinya, orang yang bisa fokus untuk mengurusnya,” kata Wiranto dalam acara dialog santai dan makan malam dengan beberapa praktisi sepak bola Indonesia, wartawan sepak bola senior, para Voter, anggota PSSI serta mantan Panglima TNI Meoldoko, Rabu (12/10).

Pria yang pernah memimpin PB FORKI dan PB TI itu berharap, PSSI dipimpin sosok yang sangat teruji. Permintaan Wiranto tentu ada benarnya. Dibanding induk olahraga lain, PSSI memang selalu menjadi magnet paling besar bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, PSSI tentu tak bisa dijadikan sampingan bagi ketua umumnya.

“Banyak jenderal di TNI, tapi hanya sedikit yang bisa jadi Panglima TNI. Dan setiap panglima itu jelas sudah teruji. Nah, PSSI yang besar itu harus dipimpin oleh orang yang sudah teruji,” tambah Wiranto.

Wiranto yakin, PSSI dan sepak bola Indonesia bakal bangkit jika ditangani figur yang sangat kompeten. Bukan hanya pandai manajemen, namun juga bisa merangkul banyak pihak.

“Orang yang telah teruji itu pasti bisa sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan dengan baik,” kata Wiranto.
Wiranto meminta para voters menggunakan akal sehat dalam pemilihan nanti. Sebab, salah memilih ketum akan membuat PSSI dan sepak bola Indonesia sulit bangkit. “Artinya, mereka harus benar-benar bisa memilih orang yang teruji,” ujarnya.

Wiranto juga memastikan bahwa Presiden Joko Widodo tak mendukung salah satu calon dalam bursa Ketum PSSI nanti. “Itu tidak mungkin! Presiden pasti netral dan pasti memberikan dukungan pada siapa pun! Begitulah sifat kenegarawanan seorang presiden,” lanjut Wiranto.

Saat disinggung tentang keberadaannya di acara itu, Wiranto hanya mengumbar senyum. Apakah Wiranto akan mendukung Moeldoko?

“Saya tidak ke mana-mana. Saya ada di sini bersama Pak Moeldoko,” tegas Wiranto yang duduk bersebelahan dengan wartawan senior Sumohadi Marsis dan mantan Komite Etik PSSI Dali Tahir.

Sementara itu, Moeldoko mengucapkan terima kasih terhadap Wiranto yang bersedia datang dalam acara itu. Meski begitu, dia enggan menganggap kehadiran Wiranto sebagai jalan lapang dirinya menduduki kursi Ketum PSSI.

Moeldoko mengatakan, acara itu merupakan upayanya mendengarkan aspirasi banyak pihak. Hal itu sejalan dengan tagline Moeldoko Mendengar yang selama ini diusungnya.

“Pertemuan ini untuk mendengar bagaimana sepak bola Indonesia ke depan. Saya juga perlu mendengar pandangan beliau (Wiranto),” kata Moeldoko.

Dia menambahkan, ada beberapa poin yang dilemparkan Wiranto. Salah satunya ialah PSSI dan sepak bola Indonesia akan membaik jika dikelola dengan sungguh-sungguh.

“Organisasi yang tingkat kritisnya sangat tinggi ini tidak boleh dipimpin dengan asal-asalan dan nyambi. Sebab, sepak bola bisa menjadi pemersatu bangsa,” ujar Moeldoko.

Menurutnya, PSSI tidak boleh dipimpin sosok yang gaya kepemimpinannya menyakitkan orang lain. “Makanya motto saya adalah football for all,” tambahnya.

Motto itu bermakna sepak bola tidak boleh terikat dengan suatu kelompok. Sepak bola harus bisa untuk membangun komunitas yang solid dan kuat. “Sepak bola sebagai instrumen membangun kebanggaan nasional,” imbuh Moeldoko.

Bagi peraih Bintang Adhi Makayasa 1981 itu, yang paling penting adalah mengelola sepak bola dengan sungguh-sungguh. “Pertemuan dengan Pak Wiranto malam ini memberikan warna,” kata pria yang dikenal tegas namun murah senyum itu. Moeldoko sendiri yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI, mengatakan jika dirinya terpilih, maka program utamanya adalah mendengar. “Saya ingin mendengar, ya PSSI harus banyak mendengar,” ujar Moeldoko.

Untuk membuat PSSI maju, PSSI harus menerima banyak mendengar. Potensi untuk maju, sangat besar. “Dan yang utama, PSSI kedepan harus mampu berkomunikasi dengan pemerintah dengan baik,” katanya lagi. “Tidak akan ada lagi persinggungan yang menghambat sepakbola kita dan suka atau tidak mengganggu juga perekomian rakyat. Kita harus maju bersama-sama,” tandasnya.

LEAVE A REPLY