www.korannasional.com–BPJS Kesehatan akan langgeng berjalan jika sistem gotong royong bisa terus dilakukan. Karena itu peserta diharapkan taat untuk membayar iuran BPJS Kesehatan tepat waktu.

“Intinya adalah bagaimana peserta sehat membantu pembiayaan kesehatan bagi peserta yang sakit,” kata Direktur Hukum, Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan Bayu Wahyudi di sela media gathering di Yogyakarta, Sabtu (8/10/2016).

Menurut Bayu, prinsip gotong royong ini memungkinkan pembiayaan pengobatan peserta yang sakit menjadi sangat ringan. Sementara bagi peserta yang sehat juga tidak terlalu berat terbebani dengan nilai bantuannya.

Bayu mencontohkan untuk peserta yang menderita demam berdarah, maka selama perawatan di rumah sakit dibutuhkan subsidi silang atau bantuan iuran dari 80 orang peserta sehat. Lalu pasien sectio caesaria membutuhkan dukungan 135 orang peserta sehat dan pasien kanker sekitar 1.253 peserta sehat.

“Penyakit jantung yang perlu operasi membutuhkan dukungan sekitar 4.000 orang peserta sehat. Ini memang pembiayaan yang paling mahal,” terang Bayu.

Diakui pemanfaatan kartu JKN-KIS dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Selama 2014 misalnya, tercatat 92,4 juta kunjungan baik ke faskes tingkat pertama maupun lanjutan (rujukan). Dan pada 2015 tercatat 156,79 juta kunjungan dengan rincian 100.617.378 kunjungan di faskes pratama, 39.813.424 di faskes rujukan (rawat jalan) dan 6.311.146 kasus rawat inap di faskes rujukan.

Bayu menegaskan dalam 2,5 tahun beroperasi, BPJS Kesehatan telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Distribusi kartu KIS telah mencapai 100.7 persen,  good governance berpredikat sangat baik atau meningkat 0.02 poin dibanding 2014 dan indeks kepuasan peserta mencapai 78,9 atau melebihi target yang hanya 77 persen.

Hingga saat ini jumlah faskes yang bergabung menjadi provider BPJS Kesehatan tercatat 19.969 faskes tingkat pertama,  1.847 faskes tingkat lanjutan. (Raakan)