www.korannasional.com–Inilah potret kehidupan Dusun Muslim Oeoue, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mereka harus terus bertahan hidup meski setiap hari kekuarangan air bersih dan tanpa listrik.

Namun itulah pilihan mereka, sebab, andai pun harus pindah  ke daerah lain kondisinya tidak akan jauh berbeda, malah bisa lebih parah.

Menurut keterangan dari Zulkifli, tokoh masyarakat adat di sana menuturkan bahwa kondisi ini selalu dialami oleh warga sejak berabad-abad yang lalu. “Memang sungguh perih, tapi apalah boleh buat, inilah tanah lelur kami yang mesti kami jaga dan pertahankan,” kata Zulkifli, Kamis (6/10).

Zulkifli menuturkan bahwa kaum muslim minoritas di NTT ini tetap semangat menjalani hidup, sebab Allah pasti memberikan kemudahan. “Kita bersyukur dengan kebinekaan di NTT. Kita hidup rukun antar sesama,” ucapnya.

Zulkifli, juga menyatakan kini tujuh mata air sudah disediakan bak penampungan air oleh Dompet Duafa. “Tapi masalah belum selesai. Sebab air yang sudah terhimpun tidak bisa masuk ke rumah-rumah,” ujarnya.

Melengkapi kondisi ini Yayasan Darul Rizki membantu mereka dengan memberikan mesin pendorong air, pipa-pipa dan genset. “Alhamdulillah sejak berabad-abad lamanya air bisa masuk ke rumah-rumah,” ungkapnya.

Justru, sepertinya tidak ada musim hujan buat Kampung Oeoue. Andai pun ada, maka terik matahari bergegas membawa air di tanah menjadi uap.

Maka pantas, meski 100 persen warga menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian tapi kualitasnya belum biasa optimal apa lagi membuat menaikan sejahtera warga di sana.

Lantas bagaimana mereka memperoleh air bersih? Setiap hari warga Oeoue yang tinggal dilereng bukit harus  turun bukit dan menerobos hutan kramat dengan jarak beberapa kilometer.

Menurut Haris, warga setempat saat dimintai keterangan menyatakan  bahwa mereka sebagai kaum minoritas perlu mendapatkan perhatian baik pemerintah pusat dan daerah. “Pada hal kampung kami ini ada 500 kepala keluarga. Nah kalau jalan kondisinya masih seperti ini, masih bebatuan kapur. Yang paling susah itu memperoleh air bersih, pada hal sebagai muslim yang taat air sangat kami butuhkan untuk membersihkan diri, terutama untuk wudhu,” ujarnya.

Menurut Haris, jadi kalau memperoleh air bersih harus ke lembah dan di sana ada mata air tempat kami semua menggantungkan hidup. Air itu kami jaga. Juga kelestarian hutan juga kami jaga betul agar ketersediaan air tetap leatari dan bisa digunakan warga,” ungkapnya.

Maka, wajar hukum adat pun diterapkan. Siapa pun yang menebang kayu, buang hajat, membakar atau ketahuan merusak hutan maka akan dikenakan sanksi adat.”Mereka harus membayar satu ekor sapi atau berkarung-karung beras,” ucapnya.

Melengkapi kondisi ini Yayasan Darul Rizki membantu mereka dengan memberikan mesin pendorong air, pipa-pipa dan genset. “Alhamdulillah sejak berabad-abad lamanya air bisa masuk ke rumah-rumah,” ungkap pembina. Yayasan Darul Rizki,
Ermi Yuspa.

Dirinya bersyukur bantuan dari saudara-saudara muslim di Jakarta, dari Yayasan Darul Rizki bisa dirasakan manfaatnya secara langsung.

Ermi berharap agar ketersediaan air pada saat ini bisa dijaga dan danfaatkan untuk terus menjaga keimanan dan ketaqwaan. “Mesti kita jaga iman dan Islam kita. Air ini bisa digunakan untuk kebutuhan ibadah, sholat dan mandi cuci dan kakus,” jelasnya.

Ke depan, lanjut Ermi, ketersediaan listrik dan sarana dan prasarana pendidikan akan diusahakan setelah melakukan renovasi masjid. (Hendri/rush)