www.korannasional.com–Sejak 2 Oktober 2009, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), salah satu badan khusus PBB dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, menetapkan batik sebagai warisan bangsa Indonesia. Sejak hari itu juga, setiap tahunnya masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional.

Tidak hanya masyarakat, Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya di Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, turut mengapresiasi Hari Batik dengan menggunakan batik Korpri saat apel di lapangan Balai Kota Depok, Senin (3/10).

Wali Kota Depok Mohammad Idris A Shomad dalam pidatonya tak lupa mengucapkan selamat Hari Batik. Batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi, kata dia, patut dilestarikan.

“Selamat Hari Batik Nasional 2016 kepada masyarakat Indonesia, khususnya Kota Depok, memakai batik Korpri merupakan suatu bentuk dukungan Pemkot Depok terhadap warisan budaya kita,” ujar Idris.

Idris mengharapkan, batik sebagai warisan budaya Indonesia semakin dicintai dan terus menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat Depok, serta mendorong faktor ekonomi kreatif bagi bangsa Indonesia. “Kembangkan dan lestarikan batik sebagai industri kreatif yang menggerakkan ekonomi nasional, sekali lagi selamat Hari Batik Nasional 2016,” katanya.

Idris berpesan, batik sebagai kekayaan bangsa Indonesia harus terus dilestarikan. “Salah satunya dengan menularkan ilmu membatik kepada generasi muda, terutama para siswa sekolah,” kata dia. 

Upaya melestarikan batik juga dilakukan Dinas Koperasi UMKM dan Pasar (DKUP) Kota Depok dengan menggandeng Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) Kota Depok. DKUP menyelenggarakan workshop membatik di Depok Town Square (Detos), Ahad (2/10/). Kegiatan tersebut diikuti oleh orang tua dan anak-anak, sekaligus berpartisipasi dalam Peringatan Hari Batik Nasional.

Ketua Ipemi Kota Depok, Evy, mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan proses membatik kepada masyarakat dan penerus bangsa. “Peserta sangat antusias, ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya membatik. Tidak hanya untuk orang tua, melainkan juga kepada anak-anak penerus generasi bangsa,” ujarnya.

Kepala DKUP Kota Depok, M Fitriawan, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurut dia, dengan adanya kegiatan ini masyarakat bisa langsung ikut merasakan proses membatik sampai hasilnya bisa digunakan. “Saya berpesan kepada pengrajin batik di Depok, agar terus menggali budaya atau kekhasan yang dimiliki Kota Belimbing ini terutama untuk motif batiknya,” ujar Fitriawan, Senin.

Fitriawan berharap, ke depan masyarakat Depok bisa lebih menghargai budaya batik yang bahkan sudah diakui oleh UNESCO. Khususnya, kata dia, terhadap Kota Depok, agar Depok dapat terus memiliki identitas atau ciri khas batik. “Bahkan untuk melestarikannya Pemkot Depok menginstruksikan para PNS untuk mengenakan batik setiap hari Jumat,” katanya menjelaskan. 

Asosiasi Usaha Kecil Menengah Indonesia (ISMEA) juga mengadakan pameran Gebyar Batik 2016 di Mal Revo Town, Kota Bekasi. Pameran diikuti kurang lebih 25 stan pengrajin batik dan kerajinan tangan.

Aneka kerajinan yang dipamerkan meliputi batik, tas, pakaian, handycraft, sepatu, kombinasi kulit batik, tenun batik, sulam batik, aksesori, dan dekorasi ruangan. Pameran ini juga dimeriahkan dengan peragaan busana batik dari sejumlah sanggar pengrajin batik.

Ketua Umum ISMEA, Endang Rudiatin, menerangkan, ISMEA adalah sebuah asosiasi UKM yang berawal dari mitra SMESCO. Keberadaan ISMEA belum genap satu tahun. “Kita dipacu untuk mengeluarkan produk yang unik, kreatif, inovatif, jadi tidak sama dengan produk-produk umumnya,” kata Endang, Ahad (2/10/2016).

Dia menyatakan, para pegiat UKM kebanyakan berkutat di barang-barang buatan tangan, yang mempunyai sentuhan nilai seni dan kerajinan. Sifatnya berbeda dengan barang pabrikan yang masif dan diproduksi dalam jumlah banyak. Untuk menghasilkan satu lembar kain batik, misalnya, dibutuhkan waktu satu hingga tiga bulan. “Inilah karya seni warisan Indonesia yang harus kita lestarikan dengan cara belilah produk batik Indonesia,” ujarnya. 

Mengingat perbedaan itu, kata dia, para pegiat UKM tidak mungkin berkompetisi dengan barang pabrikan. UKM bekerja sama dalam asosiasi ini untuk saling menopang dan memberi sumbangsih. Misalnya, pengrajin batik menjual kain kepada desainer, kemudian sisa perca dari desainer diberikan kepada pengrajin handycraft dan aksesori untuk dibuat kerajinan.

General Manager Revo Town, Hargo Dwi Hendriyanto, mengatakan, Revo Town adalah salah satu dari 12 mal terbesar di Kota Bekasi. Revo Town selama ini sudah dikenal sebagai pusat tekstil, yang diharapkan ke depan dapat menjadi pusat belanja batik di Kota Bekasi. “Kami selama ini dikenal sebagai pusat belanja tekstil di Kota Bekasi, yang juga mempunyai zona khusus UKM,” ujarnya. 

Kota Bekasi saat ini tengah mengembangkan motif batik yang diberi nama Batik Bekasi. Karakter batik ini cenderung didominasi warna mencolok, dengan 12 pakem motif, antara lain gabus, golok, kecapi, bambu kuning, lele, durian, dan eceng gondok. 

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bekasi, Chairil Astari, mengungkapkan, banyaknya pengrajin batik di Kota Bekasi menandakan potensi batik Bekasi menjadi salah satu produk batik yang bertaraf nasional. Ia memandang, sinergi dengan pemerintah perlu ditingkatkan untuk meningkatkan potensi batik. (Aris)