www.korannasional.com–Pilkada Serentak 2017 di Kabupaten Pati Jawa Tengah, terkesan ‘tenang-tenang menghanyutkan’. Kini suhu politik mulai memanas menjelang dan memasuki pendaftaran pasangan calon bupati.

Kabupaten Pati, ada yang mengibaratkan kota peristirahatan atau pensiunan ini dikejutkan dengan teror kepala anjing yanag diletakkan di kantor DPRD dan Kantor Bupati. Kontan teror tersebut membuat terperangah aparat kepolisian baik dari Polres Pati maupun Polda Jawa Tengah.

Seiring gegernya kiriman kepala anjing tersebut tanpa dinyana dan tanpa diduga, seorang anggota DPRD Kabupaten Pati, Mudasir, Selasa (13/9/2016), ditangkap dan digelandang ke Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah di Semarang.

Anggota dewan Kabupaten Pati itu terjerat kasus dugaan korupsi dana hibah KONI 2012 bagi Persatuan Sepak Bola Indonesia Pati (Persipa) sebesae Rp 1,2 milyar.

Kabar terjeratnya Mudasir yang mantan Bendahara Persatuan Sepak Bola Indonesia Pati (Persipa) sejatinya telah tersiar sejak setahun silam. Bahkan, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah pada September 2015 silam menggeledah rumah Mudasir untuk mencari barang bukti kasus.

Ditangkapnya Mudasir memang sempat mengejutkan beberapa kalangan. Sebab, teror kepala anjing di kantor dewan diiringi ditangkapnya anggota dcewan, Mudasir.

Sedang teror di kantor bupati, masih penuh tanda tanya dan misteri. Namun banyak yang mengkaitkan sebagai pertanda akan ada pejabat teras yang bakal ditangkap dalam kasus korupsi yang sudah lama dipeti-eskan.

Teror kepala anjing yang disusul aksi eksekusi petugas Kejati Jateng, yang menangkap dan Mudasir, ternyata berdampak politis hingga ada beberapa calon bupati maupun calon wakil bupati yang panas dingin.

Bahkan, tersiar kabar ada yang urung mencalonkan diri dalam perhelatan Pilkada serentak. Begitu halnya beberapa pendukung calon bupati ikut bingung dan bersembunyi mencari perlindungan.

Namun kabar terembetnya kasus Mudasir terbantahkan sudah. Sebab, kabar terakhir yang diterima media ini, sang Petahana sudah memborong 8 partai pengusung, berpasangan dengan Saiful Arifin, pemilik Hotel Safin asal Desa Mojoagung Trangkil. Otomatis tak ada calon lain yang mendapat rekomendasi dari Parpol.

Sedang bupati incumbent dipastikan melawan kotak kosong atau bumbung.
Beberapa calon yang hendak maju ke Pilkada serentak, sejak jauh hari sudah memprediksi kesulitan maju karena tidak kebagian rekomendasi partai politik. Sedang beberapa calon yang ikut penjaringan calon di DPC PDI-P Kabupaten Pati, sebagian besar untuk calon wakil bupati.

Nah, selain ada delapan tokoh putra daerah dari berbagai kalangan yang ikut penjaringan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati di Kantor DPC PDI Perjuangan Pati, beberapa waktu silam, mulai dari incumbent, pengusaha, anggota DPR RI, hingga pejabat badan usaha milik negara (BUMN), muncul pula tokoh muda yang bernama Gus Rochim, asal Sukolila, daerah Pati Selatan dan tokoh seperti Sri Wulan yang kini duduk di DPR RI Senayan.

Ke 8 tokoh itu semisal, Budiyono merupakan warga Desa Pasucen Trangkil, Haryanto (Petahana) warga Desa Raci Batangan, Saiful Arifin asal Desa Mojoagung Trangkil, dan Ampri Shodiqin asal Desa Sukolilo.
Sementara itu, Sadewo merupakan warga Desa Slungkep Kayen, Novi Eko Yulianto asal Jakenan, Endro Dwi Cahyono berasal dari Pati Kota, dan Budiyono berasal dari Desa Sambirejo Gabus.

Bupati Haryanto yang merupakan calon petahana sudah jauh hari datang ke Kantor DPC PDI Perjuangan Pati pada Jumat (05/02/2016). Bupati Haryanto didampingi oleh para simpatisannya yaitu dari perwakilan Kades dan Perangkat Desa se-Kabupaten Pati, PPDI dan Pasopati. Dan benar terbukti bupati incumbent ini memborong partai pengusung.

Sebagai calon Bupati petahana, H. Haryanto tentu akan banyak mendapat dukungan, namun belum tentu menang melawan kotak kosong. Namun harapan menangnya tentu pada koneksitas mesin partai. Sedang kendala lainnya akan muncul kasus dugaan korupsi yang hingga kini belum terungkap. tim
Sementara itu wakil Bupati HM. Budiyono juga bakal menjadi rival bupati Petahana.

Sementara H. Sudewa adalah seorang pengusaha yang berasal dari Desa Slungkep Kecamatan Kayen juga masuk dalam perhitungan. Sedangkan Amri adalah warga Sukolilo yang juga mantan pegawai BUMN malah belum diketahui kepastiannya. (Mas Tete)