www.korannasional.com–Kasus kematian Ferrardy Richie Chayono alias A Fuk (7), karena tersengat strum di taman kolam renang Green Bay Pluit, Jakarta Utara, Senen (22/08/2016) lalu, hingga kini masih berbuntut panjang.

Yessica Anggrainy, ibu kandung korban belum mau tandatangani surat perjanjian tidak akan menuntut. Yessica bersikeras akan menuntut ke jalur hukum atas kematian putra satu-satunya itu kendati Management Green Bay mengancam tidak akan membiayai segala keperluan penguburan korban.

Yessica tak mau nyawa anak satu-satunya itu hanya dihargai sebatas ganti rugi penguburan. “Saya menuntut keadilan, yang bersalah harus dihukum,” kata Yessica kepada sejumlah wartawan.

Yessica tak mau tandatangani surat lantaran keberatan atas isi surat yang disodorkan itu, hanya sebatas itu rasa tanggung jawab pihak management Green Bay. “Isi suratnya, saya diminta tidak menuntut atas kejadian meninggalnya Afuk. Harus terima dan tandatangani surat yang sudah diputuskan,” keluh Yessica seakan nyawa manusia di mata Management Green Bay tidak berharga.

Awalnya, jenasah direncanakan dikremasi, akhirnya rencana itu dibatalkan dan akan ditempuh jalur hukum. Tuntutan hukum ini terpaka dilakukan berkat dukungan famili dan rekan yang melihat pihak keluarga korban didzolimi.
Proses otopsi organ dalam pun ditempuh kembali di RSCM. tanggal 25 Agustus 2016, setelah surat pengantar otopsi dalam diberikan dari Polsek Penjaringan, Jakarta Utara.

Hasil otopsi sangat diperlukan untuk persidangan nanti.
Wanita yang sudah menjada ditinggal mati suaminya itu kini hidup sebatang kara. Dukanya semaskin terasa manakala pihak management Green Bay mengabaikan hak-haknya yang sangat lambat dan terkesan tak mau bertanggung jawab atas kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

Apalagi, Management Green Bay diduga telah memanipulasi fakta keterangan kematian korban dengan menyebut korban meninggal karena sakit.
“Mereka sudah keterlaluan. Saya dibohongi pula dengan isi surat itu yang disodorkan oleh Chandra,” terang Yessica.

Pasal Berlapis
Jika ini benar, berarti Management Green Bay diduga melakukan dua kesalahan yakni melakukan kelalaian menyebabkan orang lain meninggal dunia sesuai pasal 359 KUHP dan pasal memasukan keterangan palsu dalam akta otentik sebagai mana pasal 263 dan pasal 266 menggunakan keterangan palsu.

Seperti ramai diberitakan, Yessica saat berada di rumah duka Heaven di Pluit, disodorkan surat kematian dari Kelurahan Pluit, Jakarta Utara oleh Chandra dari manajemen Green Bay.

Tanpa disadari oleh Yessica tertulis penyebab kematian anaknya disebut karena sakit. “Padahal semua orang tahu anak saya meninggal dunia karena tersengat arus liatrik. Bayangkan, anak saya hingga 30 menit tersetrum di situ, karena pihak pengelola tidak berhasil mematikan strum yang ada di taman,” jelas Yessica saat ditemui wartawan.

Dari lembar surat kematian tersebut ada indikasi pihak Green Bay mencoba memanipulasi fakta dalam upaya terlepas dari masalah hukum. Sayangnya, Evi, General Manager (GM) Green Bay saat dikonfirmasi tidak berada di tempat. “Bu Evi sedang ada kegiatan karena kantor ini tengah melakukan audit dari kantor pusat,” kata seorang wanita resepsionis.
Pada Kamis (15/09/2016).

Sementara itu Chandra yang menyodori surat kematian kepada Yessica tak mau menemui wartawan untuk menjelaskan mengapa isi surat kematian menyebut korban meninggal karena sakit. Padahal korbahn jelas-jeloas tewas tersengat aliran listrik.

Sementara dokumen di surat kematian yang berada di kelurahan Pluit belum ditandatangani oleh Yessica. Hal ini kian menguatkan bahwa ibu korban bukan pihak yang mengajukan permohonan sehingga dengan seenaknya para anak buah Gubernur Ahok di Kelurahan Pluit menyebut korban tewas karena sakit.

Hal ini akan dilaporkan pula kepada Gubernur Ahok.
Kejanggalan pelaporan kematian dari Kelurahan Pluit, ini mengundang kecurigaan.

Terlebih, Abdul Malik, staf kelurahan, saat dikonfirmasi wartawan (05/09/2016) menyebut surat tersebut belum terdata di komputer dan masih berbentuk tulisan tangan.

Abdul Malik menegaskan, yang berhak memberikan keterangan adalah Yudi, Kepala Sie Dukcapil. “Tapi, Pak Yudi sedang keluar,” kata Abdul Malik.

Arsip Formulir Pelaporan Kematian tersebut hanya ditanda tangani Ponisih atas nama lurah Pluit.
Sejauh ini, kata Yessica, pihak Green Bay tidak memberikan santunan sepeserpun karena dia tidak mau menandatangani
surat damai. Dia mengurus kematian anaknya dan biayanya dari sumbangan tetangga sesama penghuni dan petugas sekurity apartemen.

Dari lembar surat kematian tersebut ada indikasi pihak Green Bay mencoba memanipulasi fakta dalam upaya terlepas dari masalah hukum. (Mas Tete)