www.korannasional.com–Komisi Yudisial (KY) menilai angka perselingkuhan oknum hakim cenderung meningkat sejak, 2013 sampai 2016.

Faktor terbesar sebagai pendorong terjadinya perselingkuhan, adalah ketiadaan pasangan hidup ketika bertugas di luar kota, lalu kerukunan rumah tangga dan kemungkinan meningkatkan pemberian remunerasi kepad hakim.

“Ini dapat diketahui dari pemeriksaan terhadap oknum hakim yang diduga selingkuh. Penyebab utama terjadinya praktik itu, lebih kepada faktor ketiadaan pasangan pada saat menjalankan tugas yang jauh dari kampung halaman. Serta kerukunan hidup tangga dan kemungkinan lain. Yang masih perlu diteliti lebih lanjut,” ujar Juru bicara KY Farid Wajdi di Jakarta, Rabu (14/9/2016).

Namun, dia belum dapat mengungkapkan secara statitisik jumlah oknum yang hakim yang selingkuh. “KY mencatat ada kenaikan 45 kali dari 2009, khususnya sejak 2013. 2004 tercatat ada 5 kasus,” terang Farid.

Menurut Farid, masalah ini secara tidak langsung sempat disinggung saat Mahkamah Agung (MA) melantik ketua hakim pengadilan tinggi se-Indonesia beberapa waktu lalu. “Mengutip pernyataan MA saat melantik Ketua-ketua Pengadilan Tinggi se-Indonesia, yang pertama kali yang diucapkan adalah kepada hakim yang dilantik, bawa istrimu, bawa pasanganmu, jangan biarkan ada perempuan lain yang lebih sayang kepada dirimu, daripada istri yang ada di rumah. Kira-kira begitu pernyataan beliau,” kutip Farid.

Farid mengaku belum mengetahui secara pasti, adanya perselingkuhan berpengaruh dengan penanganan perkara. “Dari sisi KY, saya enggak tahu pasti apakah ada kaitannya dengan barter perkara. Kalau ditanya apakah ada hakim selingkuh dengan pengacara, ada. Hakim selingkuh dengan hakim, ada. Hakim selingkuh dengan cinta pada pandangan pertama, bukan dengan istri atau suami, itu ada.”

Farid mengungkapkan sampai kini sudah dua orang oknum hakim, yang telah diusulkan oleh KY kepada MA, untuk diberhentikan terkait kasus perselingkuhan. (Riki)