www.korannasional.com–Walikota Jakarta Barat, Anas Effendi, diperiksa 2,5 jam di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan (Jaksel), Rabu (14/9/2016).

Mantan Walikota Jakarta Selatan itu mengaku tidak tahu menahu kasus dugaan korupsi lahan Pemprov DKI di Grogol Utara, Kebayoran Lama.

“Tadi diminta keterangan, ‘Tahu enggak masalah tanah Permata Hijau?’ saya bilang enggak tahu, ngobrol saja tadi,” kata Anas sambil melangkah masuk mobil.

Terkait namanya yang disebut-sebut oleh sejumlah saksi yang telah diperiksa oleh jaksa, Anas juga mengaku kurang mengetahui. “Saya enggak tahu, tanya penyidik saja,” ujarnya.

Anas diperiksa sebagai saksi dan dimintai keterangannya karena pernah menjabat Wakil Walikota Jakarta Selatan. Ia menjabar pada 2008 hingga 2011.

Kasie Pidsus Kejari Jakarta Selatan, Yofandi, mengatakan pemeriksaan terhadap Anas dilaukan sebagai saksi kasus Lahan Fasas Fasum milik lahan Pemprov DKI Jakarta. “Beliau selaku Walikota Jakarta Barat diperiksa sebagai saksi, namun pengakuan beliau dia tidak tahu menahu,” terang Yofandi.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini kasus dugaan korupsi sudah mencapai 45 Saksi. “Saksi sudah 42 dan saksi ahli 3 total sudah 45 saksi,” tuturnya.

Jakksa telah memeriksa 32 saksi antara lain Wali Kota Jakarta Selatan Pardjoko, pejabat BPN Jakarta Selatan tahun 2013 dan 2014, pihak PT Permata Hijau, Lurah Grogol Utara tahun 2011 dan 2014, Camat Kebayoran Lama tahun 2011, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, Heru Budi Hartono, dan 10 orang ahli waris yang mengaku memiliki tanah tersebut.

Dugaan korupsi tanah Pemprov DKI Jakarta di Grogol Utara muncul setelah terungkap ada orang yang memiliki sertifikat HGB atas lahan itu dan menjualnya ke pihak lain. Padahal, tanah seluas 2.975 meter persegi di Jalan Biduri Bulan RT 08 RW 01, Kelurahan Grogol Utara itu menjadi milik Pemprov DKI Jakarta setelah PT Permata Hijau menyerahkannya sebagai kewajiban fasos fasum pada tahun 1996.

Diduga, IR merekayasa girik tanah tersebut dan menyuap pegawai Panitia Pemeriksaan Tanah (P2T) BPN Wilayah Jakarta Selatan yang bernama AS untuk memperoleh sertifikat HGB pada 2014. IR dan AS yang kini bekerja di BPN Jakarta Pusat, ditetapkan menjadi tersangka. Lahan itu kini telah di bawah penyitaan Kejari Jakarta Selatan dan akan dikembalikan ketika kasus selesai. (Mas Tete)