www.korannasional–Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mendorong Desa untuk segera melakukan percepatan memajukan ekonomi Desa. Percepatan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan Dana Desa yang disiapkan pemerintah pusat secara maksimal.

Mendes mengungkapkan, salah satu prioritas pembanguan Pemerintah adalah membangun desa-desa di perbatasan. Termasuk di Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Dua Besi, Belu. Masalah kesulitan air dan transportasi akan coba diatasi. Termasuk dengan harapan terus tumbuhnya ekonomi masyarakat. 

”Desa Nanaet adalah wilayah perbatasan, dan jelas komitmen Pemerintahan Presiden Jokowi memprioritaskan pembangunan desa perbatasan. Segera ekonomi desa ini harus maju,” kata Eko dalam keterangan resminya, Rabu (17/8/2016).

Secara khusus, Eko mengungkapkan, banyak program Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi yang bisa masuk ke desa-desa di Belu. Salah satunya adalah dengan adanya program Dana Desa. Dana desa ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat kemajuan desa, terutama dalam memajukan ekonomi desa. Langkah kongkrit yang bisa dilakukan, lanjut Eko, misalnya dengan membangun sumber air untuk menunjang pertanian.

”Setelah air, pertanian harus digeber dengan komoditas unggulan yang berskala besar. Kelola dengan baik karena dana desa akan meningkat terus dari tahun ke tahun,” kata Eko.

Kunjungan Mendes dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-71 ini pun disambut meriah oleh warga sekitar. Salah satunya adalah Mama Petronella (47 tahun). Warga Dusun Fatonela ini bahkan rela berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju Lapangan Kantor Desa Foeka. Mama Petronella datang dengan empat anaknya yang masih sekolah.

”Baru ini saya melihat menteri. Kami merasa senang karena banyak program dari negara yang ada sekarang,” kata Mama Petronella.

Desa Nanaet Duabesi merupakan salah satu desa di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste. Jarak desa dengan Timor Leste tak lebih dari 3 kilo meter. Mama Petronella pun mengaku, sudah empat tahun ini suaminya tinggal di Timor Leste.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mama Petronella menjadi petani. Kondisi geografis Desa Nanaet, yang berbukit dan bertandus, memang menjadi tantangan berat bagi masyarakat berpenduduk 657 jiwa tersebut. Komoditas yang ditanam pun bermacam-macam, seperti jagung, ubi, tomat, dan aneka buah-buahan.

Menurut Mama Petronella, hasil pertanian itu dijual ke Pasar Atambua, yang dapat ditempuh 2 jam perjalanan menggunakan mobil truk penumpang. Mobil tersebut melintasi kampung tersebut dua kali dalam sehari.

”Sekali jalan ongkosnya 60 ribu rupiah. Kalau jualan hasil kebun seminggu sekali dapat sekitar 200 ribu sampai 500 ribu. Tapi kadang tidak dapat jual sehingga hanya habis buat ongkos,” katanya.

Kendati berada dalam kondisi yang sulit, tapi Mama Petronella dan sejumlah warga di kawasan perbatasan tetap merasa bahagia berada di NKRI. Terlebih jika menilik perhatian pemerintah. Salah satunya adalah sekolah gratis dari SD sampai SMP, sedangkan untuk SMA hanya bayar 60 ribu per bulan.

”Hal ini tidak ada di Timor Leste. Makanya, anak-anak saya tidak ada yang ikut ayahnya di sana. Anak harus sekolah,” kata Mama Petronella. (Riki S)

LEAVE A REPLY