www.korannasional.com–Presiden Joko Widodo (Jokowi) siang ini hanya melantik 67 pelajar anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2016. Jumlah ini berkurang satu karena Gloria Natapradja Hamel, siswi SMA asal Kota Depok yang menjadi perwakilan Jawa Barat terpaksa dikeluarkan karena tidak berwarga negara Indonesia. Gloria disoal karena berkewarganegaraan Prancis.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nachrowi memastikan hal ini setelah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Imam pun mengimbau kepada orangtua Gloria untuk segera mengurus kewarganegaraannya. “Setelah kami menerima surat, seperti yang saya sampaikan tadi bahwa kami berkoordinasi dengan Kemekumham. Kemkumham sudah mengeluarkan surat bahwa memang Saudari Gloria ini dinyatakan sebagai WNA dan sudah barang tentu keluarganya, orangtuanya akan segera mengurus tentang kewarganegaraan Gloria,” ujar Imam usai upacara pengukuhan Paskibrakan Nasional 2016 di Istana Negara, Senin (15/8/2016).

Sebelumnya diberitakan, Gloria terancam batal mengibarkan merah putih di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2016 lantaran kewarganegaraanya dipersoalkan. Ayah Gloria merupakan warga negara Prancis, sementara ibunya merupakan warga negara Indonesia.

Sementara itu, upacara pengukuhan Paskibraka Nasional 2016 di Istana Negara sudah dimulai. Paskibraka ini terdiri atas 34 siswa dan 34 siswi yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Mereka telah melalui seleksi ketat di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Siswa-siswi ini pun telah melaksanakan gladi kotor dan gladi bersih upacara peringatan HUT ke-71 kemerdekaan RI.

Gloria yang merupakan pelajar SMA Islam Dian Dikdaktika, Cinere, Depok, Gloria Natapraja Hamel mengirim surat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam surat pernyataan diatas materai Rp 6 ribu, Gloria menegaskan dirinya lahir dan besar di Indonesia.

Selain itu, gadis berusia 16 tahun ini juga menulis mencintai dan memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya. Gloria juga menyampaikan kalau Indonesia adalah tumpah darahnya. Surat itu dibuatnya pada 13 Agustus lalu. Tanda tangan Gloria tertoreh di surat dua lembar tersebut.

Ketua Satgas Perlindungan Anak Indonesia, M Ihsan tengah mengadvokasi Gloria yang lahir dan besar di Depok. Demikian juga tak pernah mengurus kewarganegaraan lainnya. “Dia juga sudah buat surat di atas materai, menyatakan sebagai WNI. Ini kasihan anak ini, bisa stres,” jelasnya.

Ihsan mendapat laporan remaja putri ini seperti dikucilkan dan diminta mengurus kewarganegaraannya. Padahal jelas-jelas anak
itu besar dan tinggal di Depok.

Satgas Perlindungan Anak sudah mengontak Kemenpora. Ada diskriminasi dalam urususan anggota Paskibraka ini. Anak ini sudah lolos seleksi hingga tingkat nasional, tapi mengapa malah disoal jelang hari H. “Sedih dengarnya, Ini mengganggu jiwa anak, sayang sekali,” tegas Ihsan. (Riki S)