>

www korannasional.com–Dua bocah kakak beradik ini ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di kolam bekas galian tanah. Namun setelah diaotopsi ternyata keduanya bukan mati tenggelam. Bahkan, salah satu korbannya mengalami kekerasan seksual.

Adalah dua kakak beradik, Amelia Tiara Riska Ananda (11) yang biasa disapa Amel serta Alpin Darib Akbar (8) sapaan Alpin, yang ditemukan tewas di kolam bekas galian tanah di Desa Surya Adi Blok D Pasar Gajah, Kecamatan Mesuji Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel) pada Sabtu (07/05/2016) sekitar pukul 15.30 WIB.  Penemuan dua jasad bocah ini sempat menggegerkan warga sekitar.

Sejak awal keluarga korban sudah menduga bahwa kematian dua anaknya tidak wajar. Sebab, pada saat pertama ditemukan, kondisi Amel tampak tragis dengan bekas luka benda tumpul di bagian belakang kepala,  ada bekas cakaran di bagian bawah telinga kiri, hidung mengeluarkan darah dan bagian alat vital tampak bengkak. Sementara Alpin dibagian dadanya tampak lebam dan mengeluarkan kotoran air besar. 
Dua jasad kakak beradik tersebut setelah dievakuasi dari kolam kemudian dibawa ke Klinik Tiga Saudara di Jalan Lintas Timur Desa Dabok Rejo Kecamatan Leumpuing, sekitar 8 Km dari tempat kejadian perkara (TKP).

Kematian dua bocah kakak beradik tersebut menyisakan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Penyebaba kematiannya sudah jelas diterangkan dalam hasil aotopsi yakni kedua korban bukan mati tenggelam dan diduga tewas dibunuh. Sedang korban Amel justru diindikasikan mengalami kekerasan seksual.

Namun rupanya pihak aparat penegak hukum, baik Polsek Mesuji maupun Polres OKI terkesan lepas tangan dan cenderung “membiarkan” kasus ini mengendap. 
Terbentur biaya autopsi 
Menurut Idris Broji (48) ayah kedua korban, kepada wartawan di Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyesalkan tindakan polisi yang dinilai sangat lamban dan bahkan terkesan membiarkan kasus kematian dua anaknya mengendap alias dipeti-eskan.  Hal ini terlihat dan dirasakan pada saat pertama melaporkan atas kematian tak wajar dua anaknya di Polsek Mesuji.

Idris yang sehari-harinya bekerja di tempat pencucian kendaraan bermotor, melaporkan kematian tak wajar dua anaknya pada Selasa (10/05/2016) sekitar pukul 10.00 WIB, dan diterima oleh petugas jaga Bripda Bamam Saputra, sesuai bukti lapor No tbl 115/V/2016/sumsel/Res OKI/sek Mesuji pada tanggal 10 Mei 2016.  Dan pada malam harinya, Idris dipanggil melalui telepon seluler agar datang ke Polsek Mesuji untuk dimintai keterangan oleh penyidik yang bernama Redi.

Setelah selesai di BAP (berita acara pemeriksaan), penyidik tersebut memberikan nasihat atau saran yang justru mengecewakan orang tua korban. Saran tersebut di antaranya agar kasus tersebut tidak diteruskan, karena anak yang sudah meninggal  tidak akan hidup lagi dan malah akan mendapat musuh. Disamping itu biaya autopsi cukup mahal. 

“Saya langsung lemas dan lunglai tidak bisa berpikir apa-apa. Pikiran saya buntu dan tak tahu harus berbuat apa. Apa iya biaya otopsi dua jenazah sampai Rp 50 juta. Untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah kembang kempis,” keluh Idris kepada wartawan. 

Mendengar tingginya biaya autopsi, Idris hanya menghela napas dan mengelus dada. Pikirannya pun melayang tak karuan dan sulit berpikir harus mencari duit dari mana. Sementara dirinya hanya kuli steam mobil dengan penghasilan pas-pasan. Idris pun akhirnya pulang dengan pikiran hampa.  Sedang penyidik yang diminta datang ke TKP justru menolak dengan alasan nantinya malah ribut dengan orang yang dicurigai sebagai pelakunya.

Melihat kinerja penyidik Polsek Mesuji yang setengah hati, akhirnya diputuskan untuk melimpahkan kasus kematian dua anaknya Amel dan Alpin ke Polres OKI, seminggu kemudian tepatnya pada Selasa (17/05/2016) sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak penyidik Polres pun bergerak cepat lalu memeriksa beberapa saksi. Namun langkahnya terhenti disini yakni sebatas pemeriksaan saksi. Sedang petunjuk awal yang mengarah kepada saksi kunci justru penyidik enggan menyentuhnya. Hal ini sebagaimana informasi yang diberikan keluarga korban, akhirnya mentah dan sia-sia karena penyidik dinilai enggan menindaklanjuti.

Namun demikian, Idris Broji yang didampingi Dedi Suyata, keluarganya, sedikit bernapas lega karena dua anaknya yang meninggal tak wajar berhasil diotopsi kendati sudah memasuki minggu ke empat setelah kematian dua korban.  Biaya autopsi pun ditekan serendah mungkin hingga disepakati Rp 15 juta. 

“Biaya autopsi sebanyak itu saya cicil dua kali. Itu pun setelah saya mendapat pinjaman dari rentenir. Kesulitan kami soal biaya autopsi akhirnya terobati setelah hasil otopsi menyatakan bahwa anak kami bukan mati tenggelam tetapi ada unsur lain. Ini yang membuat kami sedikit tenang,” jelas Idris.

Napas lega dan sedikit ketenangan ini pun rupanya hanya berlangsung sesaat saja karena misteri kematian dua bocah ini tak kunjung terkuak. Khawatir kasusnya berlarut-larut dan hanyut ditelan waktu, akhirnya Idris nekad pergi ke Jakarta untuk mencari keadilan dan perlindungan ke Komiisi Nasional Perlindungan Anak dan Komiisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 
Idris yang sehari-harinya bekerja sebagai pencuci mobil ini, didamping Dedi Suyata adik iparnya, selain mendatangi dua lembaga tersebut juga melaporkan secara tertulis kronologi kematian dua buah hatinya yang meninggal tak wajar ke Kapolri, Kapolda Sumatera Selatan dan  Komisi III DPR RI. 

“Kami berharap ada belas kasih, khususnya pak Kapolri, agar memberikan perhatian atas kasus kematian dua anak saya yang diduga dibunuh. Sungguh kami sangat kecewa terhadap penyidik di baik di Polsek Mesuji mapun Polres OKI yang terkesan mengabaikan kasus ini,” tandas Idris kepada wartawan di kantor Komas Anak di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

“Kami sangat terpukul kehilangan dua anak sekaligus. Ini menyangkut masalah dua nyawa tapi kok penyidik terkesan menyepelekan. Sungguh kami sangat kecewa dan bingung harus mengadu kemana lagi,” pungkas Idris. (mas tete) 

LEAVE A REPLY