www.korannasional.com–Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie mewacanakan adanya reformasi struktur kelembagaan partai. Salah satunya, menyangkut pembatasan periode jabatan pemimpin partai politik. “Kecenderungan pemimpin partai makin lama (menjabat) makin tidak demokratis ke dalam, perlu ada aturan yang membatasi kepengurusan partai politik. Partai nanti tidak sehat karena dipimpin oleh tokoh yang itu-itu saja, sehingga boleh jadi kreativitas internal tidak tumbuh,” kata Jimly di Jakarta, Selasa (24/5/2016).

Menurut Jimly, jabatan pemimpin partai yang tidak dibatasi juga bisa menyebabkan demokratisasi internal tidak berkembang. Padahal, partai diharapkan sebagai instrumen demokrasi dalam membangun negara. Untuk itu, Jimly mengusulkan agar masa jabatan pemimpin partai politik bisa dibatasi, misalnya, untuk dua atau tiga periode kepengurusan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut tidak memungkiri bahwa jabatan pemimpin partai diperebutkan karena menjadi batu loncatan untuk menjadi calon presiden. “Tapi, pemberlakuan pemilihan umum legislatif dan presiden serentak dapat meminimalkan hal itu,” tutur Jimly.

Dia meminta calon presiden jangan ditentukan secara internal tertutup. Parpol harus mencari tokoh dengan elektabilitas tinggi. “Sebaiknya, mulai sekarang kader partai rajin bertemu dengan rakyat daripada rebutan jadi pemimpin parpol,” terang Jimly.

Selain itu, Jimly mewacanakan juga tentang mekanisme penyelesaian konflik internal partai sebaiknya bisa diselesaikan di internal partai. Hal tersebut bertujuan supaya tidak mengganggu agenda negara. Jimly juga menyoroti masuknya pemodal ke dalam partai.

Dia berpendapat, harus ada aturan tegas mengenai dana partai dan sanksi-sanksi atas pelanggaran terhadapnya. “Supaya jangan ada modal di balik partai, kalau tidak berarti kedaulatan modal bahaya juga. Ini berlaku untuk semua parpol,” pungkasnya. (risjaddin)