>

turn-back-crime1-632x350

korannasional.com – Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Po Krishna Murti berupaya membuat keberadaan Polisi jadi tren yang lebih dicintai lagi oleh masyarakat. Caranya, menkampanyekan Turn Back Crime atau bersama-sama memerangi kejahatan. ”Saya berikan kepercayaan diri pada anggota cara bekerja seperti itu, pertama saya yakinkan ke mereka, mereka hebat, standar internasional. Caranya kalau begitu saya buat dulu penampilannya. Saya buat mereka penampilannya bagus dulu,” ujar Krishna.

Untuk menampilkan Polisi yang dicintai masyarakat ini, Krishna menggunakan teori asosiasi. Kaos-kaos atau sepatu dengan merek-merek terkenal akan menjadi booming di masyarakat bila dipromosikan oleh tokoh atau figur publik terkenal.

”Kenapa Polisi di luar negeri banyak disukai, terus kaos-kaosnya dijual. Orang bangga beli baju ada NYPD-nya, sehingga pakaiannya dijual. Orang bangga ‘saya dari Amerika beli kaos NYPD-nya karena mereka melihat style mereka itu keren. Saya kalau ke luar negeri selalu pakai pakaian lapangan. Oh jadi Polisi saya itu harus saya dandanin,” urai Krishna.

Lewat slogan Turn Back Crime itu pula, Krishna membranding anggotanya. Dengan mendandani anggotanya dengan berbagai merchandise terutama kaos berkerah biru bertulisan Turn Back Crime, ia meyakini, selain dapat mudah dikenali masyarakat tetapi juga dapat lebih dicintai masyarakat.

”Nah saya balik dari luar, asosiasi sudah dipakai, kan mereka sudah kayak Polisi New York, kan SDM-nya sama tuh. Saya raih kepercayaan masyarakat dulu, kalau ada kasus-kasus tertentu saya mainkan (dengan memakai kaos bertuliskan Turn Back Crime),” tutur lulusan Akpol 1991 ini.

Cara kerja Polisi reserse memang tertutup dengan berpakaian preman agar tidak mudah dikenali oleh masyarakat saat sedang melakukan penyamaran. Nah, kaos Turn Back Crime ini tentunya tidak digunakan oleh anggota Reskrimum Polda Metro Jaya yang sedang melakukan tugas-tugas penyamaran, penyelidikan atau upaya penangkapan.

”Kaos Turn Back Crim ini hanya dipakai anggota piket saja. Untuk hari Kamis pun saya bikin seragam khusus berupa kemeja warna hitam dengan tulisan ‘POLISI’ di belakang,” jelas Krishna, yang pernah bertugas di kantor PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) New York, Amerika Serikat (AS).

Kaos Turn Back Crim ini hanya digunakan saat anggota melakukan olah TKP, rekonstruksi, press rilis atau ketika ikut mengamankan demo. Maka jangan heran ketika melihat Polisi Polda Metro Jaya khususnya Reserse yang mengenakan kaos Turn Back Crim menghiasi layar kaca.

”Nah di sini saya gunakan titik panas. Kamu (polisi) kan masuk tv, tidak kelihatan kalau pakai baju preman. Kamu pakai baju Polisi, baju Turn Back Crime itu belakangnya tulisan Polisi, kita ini ‘ngejual’ Polisinya bukan ngejual Jatanras, Resmob, atau Ditreskrimum,” tutur pria kelahiran 15 Januari 1970 itu.

Upaya Krishna ini cukup berhasil. Terbukti saat ini tidak hanya Polisi saja yang mengenakan kaos Turn Back Crim , tetapi masyarakat pun menggunakan berbagai merchandise Turn Back Crim seperti kaos, stiker, topi, jaket dan lain-lain. Bahkan diakui Krishna, perlengkapan bertulisan Turn Back Crim yang dijual komunitas laku keras.

”Itu menandakan, bahwa orang ada rasa kecintaan kepada Polisi kita, bangga dengan Polisi kita. Dan sekarang tidak hanya Polisi Daerah Metro Jaya yang pakai, polisi-polisi di daerah juga mulai menerapkan teori asosiasi ini dengan memakai kaos Turn Back Crim, Jadi sudah ‘mewabah’,”terang pria yang paling getol mengkampayekan Turn Back Crime.

Krishna berharap, dengan mewabahkan Turn Back Crim ini ke publik, kepercayaan masyarakat akan Polri pun meningkat. Dan tentunya, publik yang mengenakan kaos Turn Back Crim ini pun tidak menyalahgunakannya. “Bukan hanya untuk meningkatkan citra Polri di masyarakat, tetapi juga kami harapkan masyarakat yang menggunakan kaos Turn Back Crime ini tidak menyalahgunakannya dan mereka juga mau ikut memerangi kejahatan.

Turn back crime ini kampanye yang dilakukan Interpol secara global sejak 2014 dan kini diadposi dan dilaksanakan oleh Polda Metro Jaya. Mungkin publik juga sering melihat Kombes Pol Krishna Mukti dan anggota Reskrimum memakai kemeja berkerah dengan tulisan turn back crime. ”TBC (Turn Back Crime) itu international campaign tapi gaungnya tidak terlalu menggema di dunia, tapi itu satu sisi. Kenapa saya apply, saya kan butuh brand, style,” tanya Krishna.

Setelah Krishna sempat menginjakkan kaki di 50 Negara belahan Eropa dan Timur Tengah, 17 di antatanya Negara konflik, lalu kembali ke Indonesia dan mendapatkan posisi strategis sebagai Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya. Ia melihat banyak persoalan kompleks yang terjadi di Jakarta yang harus diatasi bersama.

”Minggu-minggu pertama masalah di Polda Metro Jaya itu kompleksitasnya luar biasa. Standar kota Jakarta saja tidak bisa disamakan dengan kota besar lain di Indonesia. ‘Kitabnya’ saja tidak bisa sama, apalagi masalahnya, apalagi kriminalitasnya. Karena transnational organize crime itu di sini pusatnya (Jakarta-red),” ungkap mantan Kapolsek Penjaringan Jakarta Utara itu.

Menurut Krishna, permasalahan di Kota Jakarta ini sudah sebanding dengan kota-kota besar di Negara lain seperti Tokyo, New York, London dan Beijing. Dengan begitu, maka standar Polisinya pun harus sekelas organisasi kelas dunia. Tidak hanya dari cara berpakaian, tetapi juga dari cara kerjanya yang harus se-elit Polisi luar negeri. ”Saya harus membawa organisasi saya Direktorat Reserse Kriminal Umum. Makanya saya membawa anggota ke kelas seperti itu. Sudah bisa seperti itu? Bisa, cuma anak buah kita belum percaya diri,” lanjut Krishna.

Soal urusan kemampuan dalam keresersean, Krishna menilai anggota Polda Metro Jaya tentu tidak kalah, bahkan bisa lebih dari Polisi luar negeri. Seperti contoh, banyak Polisi Asia yang berlatih ke Polda Metro Jaya misalnya dalam hal penanganan pencegahan teroris.

Polisi kita itu hebat-hebat, dengan Amerika ini lebih hebat dari Polisi New York (NYPD) dalam hal kemampuannya. Saya kerja di PBB sudah memimpin banyak Polisi di dunia. Kalahnya di penggunaan teknologi sama sinergitas, serta kemampuan manajemen leadershipnya kurang, lanjut perwira yang pernah membubarkan lokalisali di Kalijodo ini.

Sama halnya dengan FBI (Federal Bureau of Investigation) atau NYPD (New York Police Department), Polisi kita juga kini tidak lagi melakukan penyelidikan secara manual, tetapi sudah menggunakan teknologi penyelidikan ilmiah (Crime Scientific Investigation). Contohnya saja, DVI (Disaster Victim Identification), ahli forensik, IT forensik, kimia forensik, dimiliki oleh Polri. ”Permasalahannya di kita itu inginnya jalan sendiri-sendiri, tidak mau berjalan bersamaan. Sehingga sinergitasnya kurang,” imbuh Krishna. (rusdhie ansori)

LEAVE A REPLY